PENDEKATAN FENOMENOLOGI DALAM STUDI ISLAM : (Telaah Kritis Terhadap Pemikiran Ricahard C. Martin)

Oleh : Saiful Jazil[1]

A. Pendahuluan

Munculnya pendekatan dalam kajian Islam secara langsung menggaris bawahi adanya penilaian di kalangan sarjana bahwa hubungan antara studi Islam dengan studi agama tidak produktif.

Persoalan pendekatan kajian Islam dalam buku Approaches to Islam in Relegious Studies suntingan Richard C. Martin ini adalah salah satu upaya untuk memberikan contoh khusus di mana data Islam, problem pemahaman terhadap data, serta relevansinya bagi perkembangan pemahaman terhadap kitab suci (scripture) bisa dikembangkan lebih sistematis. Dalam kajian keagamaan, yang terjadi selama ini, kitab suci selalu menjadi salah satu kategori taken for  granted yang digunakan setiap orang sebagai sumber utama. Meskipun demikian, penempatan kajian keagamaan tidak selamanya menerapkan analisis historis-kritis, kritik teks, dan bahasa pada teks utama dari agama-agama dunia, termasuk tradisi yang dimilikinya. Implikasinya, kajian yang ada sering tidak bersifat komprehensip. Untuk mengeliminasi persoalan tersebut, pendekatan kajian keagamaan harus diletakkan pada data otentik, rekontruksi proses penyusunan teks analisis teks demi informasi historis kontemporer,  data meneliti gagasan-gagasan kunci dalam teks dan menelusuri sumber-sumbernya. Di antara persoalan yang akan dibahas dan dijembatani  oleh pendekatan fenomenologi agama adalah bagaimana cara mengembangkan analisis dan pencarian data-data keagamaan yang bersumber pada kitab suci secara komprehensip.

Masalah pendekatan dalam kajian Islam telah menjadi perhatian banyak islamicsts (sarjana di bidang studi Islam atau Islamic Studies). Pada mulanya kajian Islam hanya memperoleh tempat yang sangat terbatas dan hanya dikaji dalam konteks history of religions, comparative study of religios atau religionswissenschaft pada umumnya. Model penghampiran terhadap Islam lebih banyak menggunakan metode kesejarahan (historical) dan filologis yang menekankan analisis tekstual (textual analysis). Namun, dalam perkembangannya kemudian muncul berbagai pendekatan baru yang memberikan peluang bagi tumbuhnya pemahaman (undestanding) lebih komprehensif terhadap Islam.

Namun, yang terasa lebih spesifik dari karya suntingan Richard C. Martin ini,  yang sarat dengan muatan metodologi ini adalah upayanya untuk membawa dan mengangkat islamic studies keluar dari jeratan dan jebakan historis-kulturalnya sendiri ke wilayah arus besar pusaran ilmu agama (relegionwissenschaft) yang berkembang sejak abad ke 19 dengan berbagai perangkat metodologi yang dimilikinya. Upaya demikian diharapkan dapat menjembatani kesenjangan metodologis antara Islamaic Studies dan relegionwissenschaft yang masih terasa hingga saat sekarang ini dapat sedikit teratasi.[2]

B. Pendekatan Fenomenologi

1. Pendekatan Fenomenologi dan Sejarahnya

Perlu diketahui bahwa aliran fenomenologi lahir sebagai reaksi metodologi positivistic yang diperkenalkan Comte.[3] Pendekatan positivisme ini selalu mengandalkan seperangkat fakta sosial yang bersifat obyektif, atas gejala nampak mengemuka, sehingga metodologi ini cenderung melihat fenomena hanya dari kulitnya saja, tidak mampu memahami makna dibalik gejala yang tampak tersebut. Sedangkan fenomenologi berangkat dari pola pikir sub-subyektivisme, yang tidak hanya memandang dari suatu gejala yang tampak, akan tetapi berusaha menggali makna dibalik gejala itu.[4] Dalam konsep ini, Collin menyebutnya sebagia proses penelitan yang menekankan “meaningfulness[5]

Sebagai suatu istilah fenomenologi telah ada sejak Emmanuel Kant yang mencoba memikirkan dan memilah unsur mana yang berasal dari pengalaman dan unsur mana yang terdapat dalam akal. Kemudian lebih luas lagi ketika digunakan oleh Hegel dalam memandang tentang tesa dan antitesa yang melahirkan sintesa.[6] Fenomenologi sebagai aliran filsafat sekaligus sebagai metode berfikir diperkenalkan oleh Edmund Husserl, yang beranjak dari kebenaran fenomena, seperti yang tampak apa adanya. Suatu fenomena yang tampak sebenarnya refleksi realitas yang tidak berdiri sendiri, karena yang tampak itu adalah obyek yang penuh dengan makna yang transcendental.[7] Oleh karena itu, untuk mendapatkan hakekat kebenaran maka harus menerobos melampaui fenomena yang tampak itu hingga mendapatkan “meaningfulness”.

Dalam tulisan Campbell disebutkan bahwa metode Husserl dimaksudkan untuk memeriksa dan menganalisa kehidupan batiniah individu, yakni pengalamannya mengenia fenomena atau penampakan sebagaimana terjadi dalam apa yang disebut arus kesadaran. Husserl bertolak dari pengandaian bahwa pengalaman tidak hanya diberikan pada individu melainkan bersifat intensional. Jadi, semua kesadaran adalah kesadaran akan sebuah obyek dan karenanya sebagian merupakan konstruksi individu yang mengarahkan perhatiannya pada obyek kesadarannya. Husserl berpikir bahwa kita dapat membersihkan diri dari prasangka-prasangka kita yang terkumpul mengenai dunia dan mereduksi pengalaman kita sampai unsur dasariah pengalaman itu.[8]

Beberapa kata kunci dari Husserl adalah: (a) fenomena adalah esensi atau dalam fenomena tercakup pula nomena; (b) pengamatan adalah aktivitas spiritual atau rohani; (c) kesadaran adalah sesautu yang intensional (tebruka dan terarah pada obyek); (d) substansi adalah konkrit yang menggambarkan isi dan struktur kenyataan dan sekaligus bisa terjangkau.[9]

Pengamatan Husserl mengenai struktur internasionalitas kesadaran, merumuskan adanya empat aktivitas yangn inheren dalam kesadaran yaitu (1) obyektivikasi, (2) identifikasi, (3) korelasi dan (4) konstitutsi .[10]

Intensional obyektifikasi berarti mengarahkan data (yang merupakan bagian integral dari aliran kesadaran), kepada obyek-obyek intensional. Fungsi intensionalitas adalah menghubungkan data yang sudah terdapat dalam aliran kesadaran. Husserl melihat, dalam pengarahan intensional ada struktur yang kompleks dan dalam struktur tersebut data digunakan sebagai bahan mentah dan diintegrasikan dalam obyek yang membentuk kutub obyektifnya.

Intensionalitas sebagai identifikasi, yakni suatu intensi yang mengarahkan berbagai data dan peristiwa kemudian pada obyek hasil obyektivikasi. Identifikasi banyak dipengaruhi oleh berbagai aspek dari dalam, seperti motivasi, minat, keterlibatan emosional maupun intelektual.

Intensionalitas korelasi, menghubung-hubungkan setiap aspek dari obyek yang identik menunjuk pada aspek-aspek lain yang menjadi horisonnya. Bagian depan sebuah obyek menunjuk pada bagian samping, muka, bawah, dan belakang. Aspek yang menjadi horizon dari obyek memberi pengharapan pada subyek untuk mengalaminya kembali di kemudian hari. Aspek atau bagian-bagian tersebut selalu dibayangi oleh obyek identik yang sudah tampak lebih awal.

Intensionalitas konstitusi melihat bahwa aktivitas-aktivitas intensional berfungsi mengkonstitusikan obyek-obyek intensional. Obyek intensional tidak dipandang sebagai sesuatu yang sudah ada, melainkan diciptakan oleh aktivitas-aktivitas intensional itu sendiri. Obyek intensional sebenarnya berasal dari endapan-endapan aktivitas intensional.

Dimyati, dengan menyadur beberapa gagasan Husserl, menyatakan bahwa fenomenologi merupakan analisis deskriptif dan introspektif tentang kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman langsung yang meliputi inderawi, konseptual, moral, estetis dan religius. Fenomenologi adalah sautu metode yang secara sistematis berpangkal pada pengalaman dan melakukan pengolahan-pengolahan pengertian.[11]

Manusia adalah makhluk yang melakukan komunikasi, interaksi, partisipasi dan penyebab yang bertujuan. Kekhususan manusia terletak pada intensionalitas psikisnya yang ia sadari, yang dikaitkan dengan dunia arti dan makna. Dunia makna manusia dapat diteliti dengna metode fenomenologi.

Menurut Orleans,  fenomenologi adalah instrumen untuk memahami lebih jauh hubungan antara kesadaran individu dan kehidupan soisalnya. Fenomenologi berupaya mengungkap bagaimana aksional, situasi sosial dan masyarakat sebagai produk kesadaran manusia. Fenomenologi beranggapan bahwa masyarakat adalah hasil konstruksi manusia. Teknik fenomenologi dalam sosiologi lebih dikenal dengan “pengurungan”. Pendekatan ini melakukan serangkaian investigasi dari makna konteks dalam pandangan dunia umum, yang semuanya tergantung penafsiran. Reduksi dari pengurungan fenomena adalah teknik untuk mencapai teori yang bermakna dari elemen kesadaran. Analisis fenomenologi mempunyai prosedur yang bersifat individual.[12]

2. Apoche dalam Metode Fenomenologi

Metode Husserl adalah merefleksikan pengalaman sosial-kesadaran akan diri kita sendiri yang berinteraksi dengan orang lain atau intensi kehidupan sosial. Untuk melakukan hal ini kita mesti menangguhkan atau memberi “tanda kurung” (apoche) kepercayaan kita akan dunia di luar pengalaman kita, meninggalkan prasangka seperti apa masyarakat itu.

Epistemologi Husserl mengajak kembali kepada persoalannya sendiri. Tercermin pada ajaran tentang metode berpikir dengan jalan membebaskan diri dari pengaruh tradisi ilmiah yang ada/ idola yang ada/ pikiran subyektif/ prasangka. Untuk itu obyek yang ingin diketahui harus diamati secara rohani terus-menerus melalui reduksi-reduksi. Hasil reduksi dibatin (einkammerung).

Penjelasan Husserl masuk dalam ranah fenomenologi idealis, karena kehidupan sosial di tempatkan dalam pengalaman-pengalaman individu yang dihayati, padahal dalam realitasnya pengalaman sosial berubah menjadi pengalaman komunal yang tak dapat direduksikan.[13]

Menurut Zeitlin, filsafat fenomenologi Husserl adalah filsafat tanpa adanya praduga-praduga, yang hanya dapat dideteksi melalui metode “reduksi”. Metode reduksi berupaya memahami karakter dasar kesadaran yang berupa intensionalitas.[14]

Di saat seseorang mulai merefleksikan dunia yang telah tereduksi, maka seseorang akan segera menemukan bahwa dunia bukanlah bersifat pribadi tetapi suatu dunia makna dan nilai yuang telah diciptakan secara intersubyektivitas. Intersubyektivitas ada secara murni dan ego yang merefleksi dan secara murni dibentuk dari sumber internasionalitas.[15]

Schutz menyarankan, agar dalam menerapkan pendekatan fenomenologis, peneliti hendaknya tidak memiliki kepentingan apapun. Untuk mendapatkan hasil yang meyakinkan, pengamat akan berperan sebagai partisipan dalam dunia sosial. Sikap netralitas ini tercermin dari kemampuan peneliti dalam melakukan refleksi posisi, situasi dan pengalamannya dalam dunia sosial. Peneliti tidak bias pengalaman.

3. Proses Reduksi: Upaya Penjernihan Fenomena

Aliran fenomenologi lahir sebagai reaksi metodologi positivistic yang diperkenalkan Comte.[16] Husserl berpendapat bahwa ilmu positif memerlukan pendamping dari pendekatan filsafat fenomenologis. Pemahaman Husserl diawali dengan ajakan kembali pada sumber atau kembali kepada realitas yang sesungguhnya. Untuk itu, perlu langkah-langkah metodis, yang disebut “reduksi”. Melalui reduksi, kita menunda upaya menyimpulkan suatu dari setiap prasangka terhadap realitas. Langkah-langkah metodis yang dimaksud adalah reduksi eidetis, reduksi fenomenologis dan reduksi transcendental.[17]

a). Reduksi Fenomenologi

Reduksi fenomenologis merupakan langkah pemurnian fenomena yang harus dilakukan oleh peneliti. Dalam reduksi fenomenologi ini semua pengalaman dalam bentuk kesadaran harus disaring atau dikurung sementara (bracketing). Selama pengamatan berlangsung peneliti harus mencari tahu ada apa dibalik fenomena yang tampak itu?. Dan menelusuri apa yang dialami subyek pada alam kesadaran?. Artinya peneliti berupaya mendapatkan hakikat fenomena atau gejala sebenarnya.[18] menyebutnya sebagai langkah “bracketing” atau “epoche”. Untuk melakukan “epoche” dalam rangka mendapatkan kemurnian fenomena maka ketika peneliti memasuki lapangan harus melepaskan segala atribut seperti adat istiadat, jabatan, agama, dan pandangan ilmu pengetahuan.[19]

Tugas fenomenologi adalah menghubungkan antara pengetahuan ilmiah dengan pengalaman sehari-hari dari kegiatan dimana pengalaman dan pengetahuan berakar.[20] Di sini fenomenologi merupakan bentuk idealisme yang tertarik pada struktur-struktur dan cara bekerjanya kesadaran manusia, yang secara implisit meyakini bahwa dunia yang kita dialami, diciptakan atas dasar kesadaran.[21] Dunia eksternal tidak ditolak keberadaannya, tetapi dunia luar hanya dapat dimengerti melalui kesadaran kita. Kita hanya tertarik dengan dunia sejauh dia memiliki makna maka kita harus memahami dengan membuatnya bermakna. Cara memahaminya harus mengesampingkan apa yang sudah kita asumsikan tahu, lalu menelusuri proses untuk memahaminya. Pengesampingan ini oleh Craib (yang dikutip dari pandangan Husserl) disebut reduksi fenomenologis. Tetapi pengesampingan ini dipersoalkan oleh Schutz, karena meninggalkan kita sebagai insan yang memiliki arus pengalaman (stream of experience). Fenomenologi tertarik dengan pengidentifikasian masalah dari dunia pengalaman inderawi yang bermakna kepada dunia yang penuh dengan obyek-obyek yang bermakna.[22]

b). Reduksi Eidetis

Reduksi eiditis merupakan tahapan reduksi kedua dalam penelitian berperspektif fenomenologi. Reduksi ini bertujuan memperoleh intisari dari hakikat yang telah ada. Untuk mencapai tujuan ini, peneliti menempuh langkah-langkah yang disarankan oleh Bertens (1987) yaitu sebagai berikut. Pertama, peneliti akan selalu mengabstrasikan (menggambarkan secara imajinatif) tentang peristiwa sosial yang hidup.

Kedua, melakukan identifikasi dan klasifikasi terhadap data-data yang bersifat tetap atau tidak menunjukkan perubahan dalam berbagai variasi situasi dan kondisi. Melalui cara interpretative understanding ini diharapkan dapat mempermudah bagi peneliti secara langsung membuat klasifikasi dan identifikasi perolehan data di lapangan. Dalam kegiatan ini pencatatan data dan informasi dengan menggunakan field notes, dilakukan sesegera mungkin setelah wawancara naturalistic (naturalistic interview) berlangsung, misalnya di rumah. Selanjutnya dari hasil observasi, perilaku tindakan masyarakat dipilah-pilah untuk dilakukan pendalaman lebih lanjut melaluli wawancara mendalam sehingga diperoleh makna dan pemahaman. Proses pengumpulan data dihentikan setelah dianggap jenuh yaitu setelah tidak ada jawaban baru lagi dari lapangan. Artinya, peneliti selalu memperoleh informasi atau jawaban yang sama atau sejenis dari informan-informan baru. Situasi ini ditandai dengan data yang terkumpul selalu menunjukkan hal yang sama dari berbagai situasi dan sumber yang berbeda.

c). Reduksi Transendental

Reduksi transcendental berusah memilah hakikat yang masih bersifat empiris menjadi hakikat yang murni. Hal yang empirik disaring tinggal kesadaran aktivitas itu sendiri berupa kesadaran murni (transcendental). Berikutnya mencapai fase erlabnisse (kesadaran murni) tempat untuk mengkonstitusikan atau menyusun obyek yang dijadikan sasaran. Dalam fase ini subyek mengalami dirinya sendiri dan kebenaran yang dicapai adalah kesesuaian antara apa yang dilihat, dipikir dan dialami dengan makna yang diketemukan. Ini yang disebut substansi. Pemakaian kata transcendental karena dalam proses tersebut ego mampu menemukan dirinya sendiri, juga mampu menemukan obyek untuk dirinya sendiri yang memiliki arti dan keberadaan.

Reduksi transcendental ini bertujuan untuk memperoleh subyek secara murni.[23] Untuk mendapatkan kemurnian dan kejernihan data, peneliti melakukan klarifikasi data terhadap data yang terkumpul. Proses klarifikasi itu dilakukan dengna menggunakan berbagai sumber dan teknik yang disebut dengan data triangulation maupun investigator triangulation.[24]

Melalui reduksi transcendental, Husserl menemukan adanya esensi kesadaran yang disebut intensionalitas. Setiap aktivitas intensional (neotic) adalah aktivitas menyadari sesuatu. Pengertian kesadaran selalu dihubungkan dengan kutub obyektifnya, yakni obyek yang disadari.[25] Proses reduksi berupaya menemukan adanya dunia yang dihayati oleh subyek atau kesadaran. Dunia yang dihayati dan struktur-strukturnya hanya dapat diamati dengan cara melepaskan diri kita dari prasangka-prasangka teoritis yang berasal dari ilmu yang telah dimiliki sebelumnya.[26]

Menurut Husserl, setiap subyek transcendental mengkonstitusikan dunianya sendiri, menurut perspektifnya sendiri yang unik dan khas. Dunia tidak dipahami sebagai dunia obyektif dalam pengertian fisik material, tetapi dunia sebagaimana dihayati oleh subyek sebagai pribadi. Dunia merupakan dunia subyektif dan bersifat relatif. Dalam konteks ini fenomenologi dapat menjadi dasar dan pendamping ilmu positivistic. Tugas fenomenologis adalah menggali dunia yang dihayati dan hasilnya dapat dijadikan sebagai asumsi ilmu pengetahuan.[27]

C. Penerapan Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Islam

Tradisi kesarjanaan Barat di bidang studi agama selama abad kesembilan-belas kurang atau bahkan tidak memberikan perhatian yang memadai dan komprehensif terhadap Islam. Akibatnya, kontribusinya terhadap pertumbuhan pengetahuan tentang Islam, masyarakat dan tradisi keagamaannya sangat kecil. Selain itu, tradisi orientalisme yang berkembang juga dinilai menghasilkan konstruk dan citra tentang Islam yang distortif. Bahkan, masalah ini juga diperparah dengan fakta bahwa peneliti (sarjana) tidak bisa bebas dari latar belakang atau kepentingan ideologis yang sangat berpengaruh terhadap pemahaman yang dihasilkan.

Persoalan ini disebabkan antara lain oleh tradisi orientalisme yang memberikan tekanan lebih pada metode atau pendekatan hisotoris dan filologis. Keuda metode ini dipandang tidak cukup memadai untuk memahami tradisi keagamaan secara otentik dan empatik, karena lebih melihat aspek-aspek eksternal agama. Selama abad kesembilan belas dan awal abad keduapuluh, studi agama-agama dilakukan dengan menggunakan pendekatan parsial dan kompartementalis dan menekankan pada aspek-aspek tertentu saja dari satu tradisi keagamaan. Meskipun mulai muncul pendekatan antropologi dengan pengamatan partisipatif dan arkeologi, namun, pendekatan historis dan filologis masih sangat dominan.

Baru setelah Perang Dunia I, tumbuh minat yang sangat kuat di kalangan para sarjana (scholars) untuk mengkaji agama secara substansial dan menemukan pendekatan yang memungkinkan agama menunjukkan ekspresi otentiknya tanpa intervensi nilai-nilai personal dari para sarjana peneliti agama. Situasi inilah yang mendorong tumbuhnya pendekatan baru dalam studi agama-agama, termasuk kajian Islam, yaitu pendekatan fenomologi. Perkembangan baru ini tidak terlepas dari munculnya sebuah disiplin atau pendekatan yang disebut sebagai “phenomenology of religion”.

Kaum fenomolog menerapkan metode penjelasan (verstehen) terhadap pelbagai manifestasi keagamaan pada semua kebudayaan. Dengan metode ini, para sarjana akan menghindari penilaian (judgment) terhadap nilai-nilai dan kebenaran data keagamaan yang diteliti. Tujuannya ialah untuk menangkap esensi (eidetic vision) yang ada dibalik fenomena keagamaan.[28] Apa yang dihasilkan oleh pendekatan fenomenologi adalah sangat penting untuk membuat teori konsekuensi metodologis untuk jangka panjang.

Pendekatan fenomenologi meletakkan pengalaman-pengalaman keagamaan sebagai respons terhadap realitas-realitas yang lebih dalam, betapapun realitas itu tak bisa dilukiskan. Dalam hal ini, agama dipandang tidak sebagai sebuah tahapan dalam sejarah evolusioner, tapi lebih sebagai aspek yang esensial dari kehidupan manusia.[29] Dengan ungkapan lain, pendekatan ini berupaya menjembetani kesenjangan dan ketegangan antara dimensi “histories-empiris-partikular” dari agama-agama dan aspek keberagaman umat manusia yang mendasar dan universal-transendental.[30] Pendekatan fenomenologi memberikan tekanan pada pengungkapan tentang peranan makna dan agama dalam kehidupan manusia penganut agama.[31]

Salah satu komponen penting dalam pendekatan ini adalah metode verstehen yang mengandaikan bahwa “manusia diseluruh masyarakat dan lingkungan sejarah mengalami kehidupan sebagai bermakna dan mereka mengungkapkan makna ini dalam pola-pola yang dapat dilihat sehingga dapat dianalisis dan dipahami. “Metode verstehen” ini dikembangkan dalam tradisi hermeneutic abad ke-sembilan belas, khususnya dalam studi budaya (Geisteswissenschaften) yang dimotori antara lain oleh Wihelm Dilthey (1833-1911). [32]

Tidak berbeda secara substansial dari pendekatan tersebut adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Wilfred Cantwell Smith, ahli studi agama dan Islam dari McGill University. Smith menyatakan bahwa obyek kajian ilmiah tentang agama (Islam) adalah keimanan (faith) yang diyakini oleh individu Muslim dalam konteks kehidupan nyata. Lebih lanjut, Smith membedakan dua wilayah penyelidikan: keyakinan (faith) pemeluk agama dan tradisi kumulatif di mana keyakinan tersebut muncul. Dia berpendapat bahwa teks-teks (keagamaan) sesungguhnya hanya menggambarkan sebagian dari keimanan tersebut, dan pembacaan terhadap teks-teks itu akan gagal memahami keimanan Muslim, jika penjelasan yang dihasilkan berbeda dari apa yang dimaksudkan oleh kaum Muslim sendiri.[33] Karenanya, penyelidikan terhadap inter-relasi antara dua aspek keagamaan ini akan memberikan pemahaman yang memadai terhadap fenomena agama sebagai suatu keseluruhan. Dengan pendekatan ini, Smith bermaksud menunjukkan bahwa studi agama itu sangat kompleks, dan tidak bisa direduksi hanya kepada sebuah abstraksi konseptual dalam pikiran peneliti agama. Dia menekankan karakter agama sering berubah dan pentingnya mengaitkan berbagai jenis penyelidikan untuk berlaku adil terhadap perspektif orang dalam dan tujuan ilmu-ilmu sosial itu sendiri.[34]

Salah satu contoh yang sangat baik dari penerapan pendekatan fenomenologis dalam studi Islam dapat dilihat pada Henry Corbin, seorang sarjana Perancis yang menekuni studi filsafat, tradisi Iran dan Islam Shi’ah.[35] Dalam konteks ini, fenomenologi dapat dipahami sebagai “unveiling or exposing to view something that was hidden” (menyingkap atau mengungkap untuk melihat sesuatu yang tersembunyi).[36] Pendekatan ini juga disebut sebagai pendekatan hermeneutic terhadap agama (Islam Shi’ah di Iran). Corbin menganggap penting untuk menempatkan dirinya di tempat mereka (obyek) yang dikaji, untuk menjadikan pengalaman, persepsi dan reaksi mereka sebagai norma-norma untuk menjelaskan spritualitas  dia (peneliti) minati. Sarjana harus menjadi “tamu dalam alam spritual dari orang-orang yang diteliti dan menjadi alam itu sebagai miliknya sendiri.[37]

Fenomenologi, menurut Corbin seperti dikutip Adams, merupakan kunci menuju sisi esoteris Islam. Ia adalah metode yang membuka rahasia-rahasia yang tersembunyi dari realitas yang lain, dan dalam peran ini fenomenologi sama dengan hermeneutika tehadap sifat yang mendasar dan mendalam dari spritualitas Islam. Fenomenologi atau hermeneutika Corbin bertujuan untuk mendemonstrasikan “makna” dari realitas eksoterik yang diyakini oleh orang-orang Shi’ah. Hermeneutic atau “fenomenologi spirit” dalam pandangan Corbin adalah ajaran-ajaran para Imam (Shi’ah), karena mereka-lah yang mendemonstrasikan makna rahasia dari wahyu, tapi yang hidup dan terus tumbuh dalam masyarakat.[38]

Di sini tampak bahwa fenomenologi Corbin berbeda dari fenomenologi yang selama ini digunakan dalam studi agama sebagai disiplin akademis. Pendekatan histories dan filologis harus ditinggal dibelakang, dan digantikan dengan studi Islam yang menggabungkan pemahaman filosofis dengan kesadaran spritual personal sebagai dua komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam mengapresiasi fenomena Islam.[39] Dalam konteks ini, tugas fenomenologi adalah menyelamatkan kitab suci, seperti Al-Qur’an, dari “kematian” sejara masa lalu, dengan menghadirkannya dalam pengalaman para pemeluknya. Ia harus direbut dari “historical time” dan kemudian dicangkokkan kedalam ‘existensial time’ dimana ia ‘hidup’ dan selalu berkembang bersama mereka yang meyakini kebenarannya.[40]

Dengan demikian, makna Al-Qur’an sesungguhnya bersifat terbuka (open), karena makna itu tergantung kepada keputusan dan pilihan yang diambil oleh setiap individu untuk mengapresiasinya. Dalam wat is scripture? Smith menyatakan bahwa makna yang sesungguhnya dari al-Qur’an tidak terletak pada teks, tidak pula makna yang ada dalam pikiran Tuhan. Sebaliknya, makna al-Qur’an terletap pada pemahaman, pikiran dan hati kaum muslim, karena makna al-Qur’an sesungguhnya adalah sejarah dari makna-maknanya, bersifat dinamis, kreatif, kompleks, dan bersinggungan dengan kehiduan para pemeluknya sepanjang berabad-abad di berbagai tempat.[41]

Contoh lain yang eksplisit dari pendekatan fenomenologi terhadap Islam adalah karya Annemarie Schimmel, Deciphering the Signs of God: A Phenomenological Approach to Islam. Schimmel percaya bahwa pendekatan fenomenologis sangat sesuai untuk memahami Islam secara lebih baik. Pendekatan ini berupaya masuk ke jalan agama dengan pertama-tama mengkaji fenomena, dan kemudian lapisan-lapisan (layers) yang lebih dalam dari respon manusia kepada yang bersifat ilahiyah (divine). Dengan pendekatan ini akan bisa dicapai inti suci yang paling dalam dari setiap agama (Islam).[42]

Dalam konteks ini, jika metode histories-filologis-melalui analisis tekstual mencari ‘maksud’ dari penulis teks-teks keagamaan, atau makna asli dari teks tersebut, dan strukturalisme bertujuan untuk menjelaskan suatu teks atau ritual semata, tapi lebih pada makna holistis-sinkronis, dari pada makna histories-diakoronis-nya, maka fenomenologi lebih memandang proses agama dari segi atau dalam hal pola hubungan stimulus atau respons (yang suci atau noumenal atau pemikiran, tindakan keagamaan), dan karena itu menganalisis respons atau pengalaman keagamaan sebagai bidang penelitiannya.[43]

Penutup

Belajar dari perkembangan dalam studi Islam dan problem-problem metodologis yang mungkin timbul, studi Islam karenanya harus mempertimbangkan pendekatan-pendekatan baru yang memungkinkan munculnya pemahaman yang lebih komprehensif terhadap Islam. Pemanfaatan teori-teori ilmu sosial (social sciences) dan kemanusiaan (humanities) dalam kajian Islam menjadi keniscayaan, untuk menghasilkan model atau konstruk pemikiran keislaman yang sesuai dengan perkembangan kontemporer ilmu pengetahuan. Inilah yang mungkin dapat disebut sebagai perlunya pengeseran paradigma (paradigm shift) dalam studi Islam.

Pentingnya pergeseran atau perubahan paradigma didasarkan pada fakta bahwa pendekatan ilmu-ilmu keislaman tradisional (seperti fiqih, kalam, tasawuf) tidak cukup mamu menggambarkan dinamika keimanan dan ekspresi kutural kegamaan dan intelektual Islam. Pembacaan terhadap tradisi-tradisi keagamaan dan intelektual Islam. Pembaca terhadap tradisi-tradisi keagamaan yang sangat dinamis dan kompleks membutuhkan perangkat-perangkat konseptual dan teoritis dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Lebih-lebih, menifestasi Islam tidak hanya tampa pada teks-teks suci, tetapi juga pada simbil-simbol yang diprduksi dan direproduksi terus menerus oleh kaum muslim. Pendekatan histories dan filologis saja karenanya tidak memadai.

Perubahan paradigma dapat dimulai dengan dialog yang terbuka antara ahli-ahli keislaman dari berbagai basis keilman, mulai sejarah, filsafat, filologi, sosiologi, antropologi, ekonomi dan studi budaya (cultural studies). Studi Islam memang telah menjadi sebuah disiplin tersendiri, namun ia tidak bisa melepaskan diri dari teori, pendekatan dan konsep-konsep ilmu sosial dan humaniora.

Pergeseran paradigma dan pendekatan dalam studi Islam sudah mulai berkembang di kalangan sarjana Barat, seperti tampak dalam tulisan-tulisan yang disuting oleh Martin tersebut.kesadaran demikian ini penting pula ditumbuhkan di kalangan sarjana Muslim yang menekuni studi Islam. Mungkin saja, seorang sarjana tidak bisa sepenuhnya melepaskan pre-suposisi, atau belum sepenuhnya melakukan bracketing out atau epoche (menghindari judgment), atau belum mampu mengembangkan eidetic vision, karena adanya factor-faktor non-ilmiah, seperti politik, ideology, yang mempengaruhi hasil pemahaman, sebagaimana dikonstatasi oleh Bernard Lewis, Leonard Binder, Lambert dan lebih-lebih Edward Said di muka.

Namun, dengan adanya kesadaran untuk memahami tradisi sendiri atau tradisi orang lain secara empatik, perubahan paradigma tersebut niscaya akan menghasilkan konvergensi epistemologis. Meskipun ini sulit atau hampir mustahil, karena cenderung akan memunculkan sebuah epistemologi yang lebih dominan, maka setidak-tidaknya kesadaran baru itu akan menghasilkan dialog secara dialektis dan gerak melingkar (circular movement) antara berbagai paradigma, epistemologi, teori atau pendekatan yang selama ini berkembang dalam tradisi keilmuan kontemporer.[44]

Akhirnya, minat untuk mengkaji suatu bidang tertentu ketimbang bidang yang lain memang sangat ditentukan atau mungkin diilhami oleh materi sekaligus sesuatu yang bersifat personal dari setiap peneliti. Minat ini berkaitan erat dengan metodologi atau pendekatan, yaitu bagaimana mengkaji suatu obyek kajian, dalam hal ini agama dan pelbagai manifestasinya. Banyak sarjana telah mencoba melakukan studi dan pengkajian terhadap berbagai manifestasi Islam, yang merupakan kumpulan data Islam yang merentang panjang dan luas, secara histories dan geografis. Data yang ada mencakup banyak aspek: teks-teks, fenomena sosial-historis, dan bahkan ritual simbolik. Munculnya berbagai kritik terhadap pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam kajian Islam dan usaha menerapkan metode tertentu dan kerangka teoritik tertentu dari disiplin lain terhadap data keagamaan Islam dimaksudkan untuk melakukan perubahan dan perbaikan dalam studi Islam di masa-masa mendatang.


[1] Dipresentasikan dalam diskusi kelas program Doktoral IAIN Sunan Ampel dengan dosen pengampu Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, MA, 2007

[2] M. Amin Abdullah, “Kata Pengantar” dalam Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, iv.

[3] . Lihat M. Basrowi dan Sunyono, Teori Sosiala dalam Tiga Paradigma, Surabaya: V de Pres, 2004. hal. 59.

[4] Tom Cambell, Seven Theories of Human Society, Alih Bahasa Budi Hardiman, Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penelitian, Perbandingan, Yogyakarta: 1994, Penerbit Kanisius, hal. 233

[5] Finn Collin, Social Reality, London and New York, Routledge 1997, hal.

[6] Harun, Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta: Kanisius, 1985, hal. 63-65

[7] Ibid, hal. 139-140

[8] Tom Cambell, Seven Theories of Human Society, Alih Bahasa Budi Hardiman, Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penilaian, Perbandingan, Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1994, hal.231-265.

[9] Ibid, hal. 232

[10] Ibid.

[11] Mochammad Dimyati, Penelitian Kualitatif: Paradigma Epistemologi, Pendekatan,Metode dan Terapan, Malang, PPS Universitas Negeri Malang, 2000, hal. 70

[12] Ibid, hal. 70

[13] Tom Cambell, Seven Theories of Human Society, Alih Bahasa Budi Hardiman, Tujuh Teori Sosial: Sketsa, Penelitian, Perbandingan, Yogyakarta: 1994, Penerbit Kanisius, hal. 236

[14] Irving M. Zetlin, MemahamiKembali Sosiologi: Kritik Terhadap Teori Sosiologi Komtemporer, Yogyakarta, Gadjah Mada University, 1998, hal. 207-278

[15] Ibid, hal. 212

[16] Malcolm Waters, Modern Sociological Theory, London: Sage Publications. 1994, hal. 30

[17] Finn Collin, Social Reality, London and New York, Routledge 1997, hal. 111

[18] Ibid, hal. 111

[19] Mochammad Dimyati, Penelitian Kualitatif: Paradigma Epistemologi, Pendekatan,Metode dan Terapan, Malang, PPS Universitas Negeri Malang, 2000, hal. 80

[20] Ian Craib, Teori-teori Sosial Modern dari Parson sampai Habermas, Jakarta: Rajawali Press, 198, hal. 126

[21] Ibid, hal. 127

[22] Ibid, hal. 128

[23] Finn Collin, Social Reality, London and New York, Routledge 1997, hal. 111

[24] Norman Denzin, dan Yvonna S. Lincoln, Handbook of Qualittieve Research, Berverly Hills: SAGE Publications, Inc. 1994, hal. 214-215

[25] Finn Collin, Social Reality, London and New York, Routledge 1997, hal. 111

[26] Ibid, hal. 112

[27] Ibid, hal. 113

[28] Martin. Approaches to Islam, 7

[29] Ibid.

[30] M. Amin Abdullah, “Kata Pengantar”, dalam Pendekatan Kajian Islam Dalam Studi Agama,iv.

[31] Martin, Approaches to Islam, 7

[32]Tentang hermeneutic sebagai metode, filsafat dan kritik, lihat Josef Bleicher, Contemporary Hermeneuitics : Hermeneutics as Method, Philosophy and Critique (London and New Yirk : Routledge, 1980), 19,25,27,47.

[33] Martin, Approaches to Islam, 9

[34] Erricker, “Phenomenological Approaches,” 90

[35] Charles J. Ada, “The Hermeneutics of Henry Corbin,” dalam Approaches to Islam in Religius Studies, ed. Richard Martin (Tucson : The Arizona State University Press, 1985), 129-150

[36] Ibid, 143; mengutip Henry Corbin, En Islam Iranien I, xix-xx

[37] Ibid. 142

[38] Ibid. 1441

[39] Ibid, 130. model pendekatan inilah yang mungkin disebut oleh Muhammad “Abid al-Jabiri sebagai nalar ‘irfani dalam episteme Islam. Muhammad “Abid al-Jabiri, Bunyat al-Aql al-Arabi : Dirasah Tahliliyah Naqdiyah li Nizam al-Ma’rifah al-Thawafah al-Arabiyah. Cet. 3 (Beyrut : Markaz Dirasat al-wahdah al-Arabiyah, 1990), 251-270. Lihat M. Amin Abdullah, “al-Ta’wil al-‘ilmi : Kearah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci,” Al- Jami’ah vol. 39 No. 2 (July-December 2001) : 359-391.

[40] Adams, “The Hermeneutics of Henry Corbin,” 144

[41] Wilfred Cantwell Smith, What is Scripture? A Comparative Approach (Minneapolis: Fortress Press, 1993), 89-90. Lihat juga Wilfred Cantwell Smith. The True Meaning of Scripture: An Empirical Historion’s Non-Reductionist Interpretation of The Qur’an, International Journal of Middle East Studies (IJMES) 11 (July 1980): 504. Bab keempat dari What is Scripture? Pada mulanya adalah versi awal dari artikel di jurnal ini.

[42] Annemarie Schemmel, Deciphering the Signs of God: A Phenomenological Approach to Islam (Albany: State University of New York Press, 1994), xii.

[43] Martin, Approaches to Islam, 8

[44] Lihat Abdullah, M. Amin Al-Ta’wil al-‘Ilmi: Kearah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci”, Al-Jami’ah vol. 39, No. 2 (July-December 2001), 359-391

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: