The Lost Salafiyah: Rethinking Makna Salafiyah Pesantren

Seperti biasanya, di pagi hari aktivitas ngopi dengan teman-teman adalah hal yang tidak bisa saya tinggalkan. Bukannya tidak bisa buat kopi, saat bertemu dan duduk bersama, saat itu pula akan ada perbincangan yang menarik untuk diperbincangkan… walaupun tidak ada moderator sekalipun, obrolan tetap mengalir dengan ‘ganyeng’.

Salah satunya adalah perdebatan kecil tentang arti salafiyah.
Ada hal yang menarik dalam obrolan ringan di ā€œndalem wengkengā€ Gus Sholikh di Pesantren Ngalah Pasuruan, tentang makna salafiyah di Pesantren Ngalah. “Saya pikir-pikir salafiyah di Ngalah ini kok semakin pudar ya, tidak seperti dulu. Dulu setiap santri pasti sarungan baik pada saat di dalam maupaun di keluar pesantren, dan tidak lupa menggunakan kopyah bagi santri laki-laki. Tidak seperti sekarang yang sering menggunakan celana, dan jarang yang kopyahan.”

“Dulu, santri tidak ada yang punya handphone, dusamping dilarang, juga memang handphone masih mahal. Sekarang, santri yang masih ‘ingusan’ (baca: kecil) saja sudah mempunyai handphone, dan setiap malam bergadang tidak untuk mengaji tapi freetalk-an dengan ‘gendaannya’, sms-an juga tidak mau ketinggalan hingga tangan sampai ‘keriting’…”

Dalam obrolan ringan di atas, makna salaf lebih dibayangkan dengan simbol tradisi pesantren masa lalu yang agamis, yang berbeda dengan simbol tradisi modernis dewasa ini.

Bila kita telusuri makna salafy itu sendiri, dalam wikipedia, makna Salaf dapat diterjemahkan menjadi “terdahulu”. Bila diuraikan lebih jauh, kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan. Kata Ibnul Mandzur : “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta keutamaan yang lebih banyak” (Lisanul Arab (9/159))

Salafiyah adalah sikap atau pendirian para ulama Islam yang mengacu kepada sikap atau pendirian yang dimiliki para ulama generasi salaf, yakni orang terdahulu yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Ketiga generasi ini dianggap sebagai contoh bagaimana Islam dipraktekkan (id.wikipedia.org/wiki/Salafiyah).

Bila kita tautkan dengan obrolan ringan di atas tentang makna salaf, ada hal mendasar yang mempunyai kemiripan dalam memaknai kata salaf, yakni sama-sama melihat dan menilai sikap dan pendirian yang terjadi di masa lalu, yakni tradisi pesantren yang masih kental dan belum “terinfeksi” dengan tradisi modern sekarang ini.

Dari obrolan tersebut, ada kekangenan tersendiri dari beberapa santri yang ‘khos’ untuk merasakan kembali tradisi masa lalu yang masih belum terkontaminasi dengan tradisi sekarang ini, yakni santri yang masih mempunyai semangat untuk mentelaah kitab, santri yang masih mempunyai jiwa kompetisi yang tinggi untuk menghafal nadhom-nadhom baik baik imrithi, alfiyah dan sebagainya, serta santri yang mempunyai sikap dan perilaku sami’na wa atho’na kepada ustadz dan kyainya.

Diakui atau tidak, perkembangan dan akses teknologi informasi yang tinggi dan komunikasi semakin mudah dan terbuka, mempunyai ekses yang tidak kecil terhadap perilaku santri. Santri semakin termanjakan dengan ‘layanan’ teknologi (salah satunya HP) untuk memanfaatkan fasilitas yang ada.

Maka idiom-idiom modernitas pun tak pelak menjadi sebuah keharusan dalam berperilaku santri. Santri yang tidak memanfaatkan teknologi informasi dianggap santri kuno dan ketinggalan zaman. Apalagi didukung dengan dengan iklan yang bombastis untuk bicara sampai dower (Fren), yang gratis kedua-duanya (bicara dan sms – XL), gsm yang baik (axis), adalah layanan yang sangat memanjakan pelanggan selluler, khususnya santri untuk menggunakannya.

Secara tidak sadar, tradisi pesantren salaf pun yang nota bene lebih menekankan untuk membaca kitab, menulis (ngesahi dan memaknai), serta menghafal, baik nadhom maupun hadits dan ayat al-Qur’an semakin terkikis dengan budaya baru… NGOBROL SAMPAI PUASS…

Bahkan apa yang seharusnya disuri tauladani dari ulama kaum salaf (Al Bukhary, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur’ah, At-Tirmidizy, Abu Daud dan An-Nasa’i dan sebagainya) yang selalu mentelaah dan menulis kitab-kitab dengan jalan riset atau penelitian, sepertinya semakin sulit untuk diwujudkan, karena memang generasi sekarang semakin terkonstruksi untuk menjadi generasi ngobrol, bukan generasi yang senang berfikir, berkontemplasi, belajar, menggali keingin tahuan lebih dalam, dan mentelaah kitab sebagaimana tradisi ulama salaf.

Bukannya teknologi informasi tidak mempunyai sisi manfaat, namun sepertinya ‘bombasitas’ tausiyah ustadz dan kyai dibandingkan dengan iklan handphone yang bertubi-tubi semakin tidak imbang. Kita hanya berharap bahwa ada kesadaran bersama, baik orang tua santri, ustadz, kyai, masyarakat, khususnya santri itu sendiri untuk mawas dan menjaga diri, setidaknya menjadi generasi santri salafi yang modernis…. Semoga…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: