"Ya Nasib-ya nasib…": Keluh Kesah Pedagang Kaki Lima

Oalah gusti Allah pengeran…

Itulah ungkapan yang dilontarkan ibu tua menjadi penghias hari-hari berat mereka
Hidup tak tenang saat Satpol PP datang bawa pentungan
Hari madu pun tak datang karena tiap hari kejar-kejaran
Rombong jadi taruhan
Antara usaha cari uang atau atas nama ketertiban…

Ya Tuhan…
Kapan ibu-ibu Indonesia hidup nyaman dan terbebas dari bayang-bayang ketakutan
(Surabaya; 12/5/08; 153115)

Itulah penggalan “doa keluh kesah” nasib para pedagang kali lima menghadapi hari-hari berat mereka. Di tengah hiruk-pikuk kota, padat lalu lalangnya kendaraan roda 2 sampai delapan, ramainya mall plaza dan pertokoan yang semakin megah, maka PKL adalah salah satu bagian yang semakin tersudutkan, baik dalam persaingan ekonomi global, maupun sistem penataan kota yang semakin dianggap sebagai “sampah kota” yang sangat mengganggu kenyamanan kota yang semakin tak sedap di mata.

Dilematis memang, satu sisi mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia, disisi lain mereka dianggap kurang memberikan “kontribusi” yang besar kepada bangsa Indonesia. Bahkan dianggap sebagai “penghambat” pembangunan kota.

Maka tidak heran, bila Satpol PP dengan gagah berani untuk membongkar, membawa, dan menyita alat dan “rombong” milik PKL. Tak perduli apakah pedagang tersebut mempunyai tanggungan hutang segunung, SPP anak-anak mereka yang belum terbayarkan 5 bulan, atau suami mereka yang masih terbaring di rumah tak begitu terawat karena mahalnya berobat.

Kita pun tidak menafikan bagaimana pemerintah berusaha untuk mengentaskan kemiskinan dengan berbagai program. Ttapi kita pun sudah tahu pula bahwa program pengentasan kemiskinan yang diprogramkan masih belum maksimal. Dana bantuan yang seharusnya untuk membantu kaum miskin, seperti para PKL, masih banyak yang salah sasaran, karena memang banyak kepentingan dari orang-orang penting agar mereka semakin “penting” (baca:untung)… atau bisa juga dari orang-orang yang “setengah kaya” (baca: mampu) membuat dan memanfaatkan informasi agar bantuannya dana tersebut jatuh ke tangannya dengan mengaku sebagai orang miskin. Tak tahulah… yang pasti para PKL masih belum banyak yang tersentuh oleh tangan-tangan suci untuk membantu meningkatkan harkat dan martabat mereka untuk menjadi lebih layak. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Kaylani bahwa “mereka membutuhkan kepastian yang terpampang di depan mata, bukan pertanyaan ataupun pernyataan yang semakin merdu untuk didengarkan”Haruskan kita menutup mata dengan realitas yang semakin jelas terpampang di depan mata kita semua, ataukah kita tergerak untuk memberikan segenap kekuatan dan kemampuan kita bersama, baik masyarakat, pengusaha, pemerintah untuk membantu mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: