MEMBACA ORIENTASI PENDIDIKAN INDONESIA

“Sekolah tinggi-tinggi itu le (tole: anak, pen) bukan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi untuk menghilangkan kebodohan” begitu dawuh Kyai Sholeh pada saya. Sejenak apabila dipikirkan dawuh tersebut, memang selayaknya begitu. Namun bila dikorelasikan dengan perkembangan pendidikan di Indonesia, ada miss orientasi yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan pada umumnya.

Untuk mendapatkan dan menggaet siswa agar tertarik pada lembaga pendidikannya, janji-janji bahwa lulusan lembaga tersebut langsung bisa kerja bukanlah hal yang asing lagi. Bahkan, pada kondisi sekarang yang sedang mengalami krisis ekonomi, BBM naik, pekerjaan yang semakin sulit didapat, meningkatnya angka kriminalitas, dan semakin tingginya index kemiskinan di Indonesia, semakin memperkuat keyakinan bahwa sekolah adalah pintu masuk mendapatkan pekerjaan.
Asumsi bahwa tidak bermanfaat dan sangat muspro dan mubadzir semua ilmu yang didapat apabila seorang siswa setingkat SMA yang sudah lulus dari sekolah atau mahasiswa yang sudah diwisuda di perguruan tingginya masih belum mendapatkan pekerjaan adalah hal yang lumrah menjadi pemikiran masyarakat awam pada umumnya. Ge opo sekolah dhuwur-dhur, lha lek nganggur. Sekolah dhuwur-dhuwur balike` yo neng dapur… (Buat apa sekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya menganggur. Sekolah tinggi-tinggi kembalinya juga ke dapur; untuk memasak, pen). Begitu kira-kira ungkapan mereka menanggapi pendidikan sekarang.
Bisa dimaklumi dan difahami, ditengah himpitan ekonomi nasional, ditengah terpuruknya perekonomian keluarga, mendapatkan nafkah dan rizki sangat mungkin menjadi orientasi utama dalam kehidupan mereka. Karena tanpa nafkah yang memadai, hidup terasa sangat sulit dan menghimpit. Dalam konteks ini, orientasi yang mengarah kepada profit oriented juga mempengaruhi pada paradigma pendidikan anak-anaknya. Saat menyekolahkan anak, salah satu pertimbangan orang tua adalah bagaimana setelah lulus dari sekolah tersebut mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehingga, bisa ditebak bahwa tujuan dari sekolah tersebut adalah mendapatkan pekerjaan.
Karena banyak dari orang tua yang mengasumsikan demikian, lembaga sekolah atau perguruan tinggi, pun beramai-ramai menawarkan solusi bagi anak mereka dengan iming-iming setelah lulus kemungkinan besar akan mendapatkan perkerjaan.
Fenomena ini bisa dilihat dalam brosur-brosur ataupun sponsor di televisi, misalnya sponsor SMK yang di-iconi oleh Tantowi Yahya yang mengatakan bahwa setelah lulus SMP ya ke SMK karena berpeluang lebih besar untuk mendapatkan lapangan pekerjaan.
Begitu pula sebaliknya, sangat minim dan sedikit sekali lembaga pendidikan yang menawarkan tentang ‘pembentukan akhlak’, ‘perbaikan moral’ dan sebagainya sebagai jargon untuk menarik minat siswa atau mahasiswa baru. Jargon-jargon seperti ini pada konteks sekarang terasa kurang begitu populis, dan kurang diminati oleh para orang tua pada umumnya.
Buah simalakama memang, satu sisi dihadapkan dengan persoalan ekonomi, disisi lain dihadapkan dengan tantangan moralitas bangsa yang semakin membuat gerah dan sangat riskan bagi para generasi bangsa.
Setidaknya, kesadaran pendidikan sebagaimana yang dimiliki para pemikir bangsa, Kyai Sholeh salah satunya, semoga mampu menjadi balancing system orientasi pendidikan Indonesia untuk mempu mengarahkan kepada bangsa yang lebih beradab.
Semoga….
Ashar hari, Sengonagung, 1 Juni 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: