PENTINGNYA TAHQIQ AL-KUTUB

Indonesia, adalah bangsa yang memiliki keragaman budaya, ras, suku, dan agama. Dengan kata lain, Indonesia adalah negara yang plural. Dengan keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, maka kepentingan-kepentingan juga semakin beragam, baik kepentingan berbasis budaya, ras, suku maupun agama.
Islam, sebagai agama mayoritas di negara Indonesia, mempunyai peran penting dalam menjembatani berbagai kepentingan yang berkembang. Islam, juga mempunyai peran penting untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa akibat perbedaan kepentingan yang berkembang. Maka peran ulama’, sebagai tokoh pemikir dan guru dalam Islam, adalah hal yang tidak dapat dipungkiri untuk mampu menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, baik persoalan di tingkat atas maupun di kalangan bawah (grassroot).
Ulama’ yang diyakini sebagai pewaris nabi (ulama’ warotsatul anbiya’) dalam segi khasanah keilmuan dan kedalamannya dalam memahami agama Islam, merupakan tokoh kunci masyarakat Islam, untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat. Ulama’ selain sebagai transformer keilmuan pada santri, juga sebagai tempat tumpuan masyarakat untuk “mengadukan” berbagai persoalan-persoalan hidup, baik urusan kasur (rumah tangga), perkerjaan di kantor, pendidikan anaknya, dan berbagai permasalahan sehari-hari yang sering dihadapi oleh masyarakat.
Mereka mempunyai keyakinan bahwa ulama’ tidak hanya mampu menjawab permasalahan yang mereka ajukan dalam segi agama, tetapi ulama’ juga dianggap bisa membantu memecahkan permasalahan tersebut dalam segi spiritual, karena kedekatannya dengan Allah SWT.
Karena kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh ulama’ tersebut, maka segala tindak-tanduk (tingkah-laku) akan ditiru dan menjadi suri tauladan bagi santri khususnya dan masyarakat pada umumnya, dan tausyiyah ataupun fatwa ulama’ juga menjadi pedoman di lingkungan masyarakat untuk menghadapai dan menyelesaikan persoalan-persoalan dalam masyarakat.
Dalam beberapa permasalahan yang timbul dalam masyarakat, tidak jarang para ulama’ menyikapi permasalahan tersebut dalam sudut pandang yang berbeda dan dengan landasan hukum yang berbeda. Yang dimaksud landasan hukum disini adalah hukum-hukum yang diambil dari hukum Islam, yang terdapat dalam al-Qur’an, hadits, qiyas maupun ijma’. Sehingga tausyiyah yang dikeluarkan ataupun opini yang dikembangkan ke dalam masyarakat dalam menjawab dan merespon persoalan tersebut juga berbeda.
Ambil contoh; di awal tahun 60-an terjadi perdebatan soal drum band antara Kiai Wahab Chasbullah dengan Kiai Bisri Syamsuri yang sangat dikenal dikalangan pesantren. Kiai Wahab membolehkan dan mendukung drum band, sebaliknya Kiai Bisri menolak dan mengharamkannya. Kiai Bisri pun akhirnya diam seribu bahasa ketika drum band menjadi marak justru di kalangan anak-anak muda NU dan pesantren sendiri.
Perbedaan ulama’ tersebut tidak hanya terjadi pada waktu itu saja, jauh sebelumnya adalah suatu hal yang sering terjadi. Misalnya perbedaan di kalangan madzahibul arba’ah tentang do’a qunut. Atau bahkan dalam kontek sekarang pun tidak jarang terjadi perbedaan pandang dalam memberikan suatu hukum terhadap masalah yang muncul dalam masyarakat, misalnya goyang ngebor Inul beberapa waktu yang lalu.
Perbedaan ulama’ dalam kontek keilmuan adalah sebuah rahmat (ikhtilaf rohmah) dan akan memperkaya khasanah keilmuan. Namun, seringkali perbedaan yang timbul dikalangan ulama’ tidak dikaji lebih dalam oleh masyarakat umum mengapa perbedaan itu bisa terjadi. Maka perselisihan yang terjadi di masyarakat umum tentang berbedanya “fatwa” di kalangan ulama’ menjadi salah satu penyebab konflik yang terjadi di akar rumput. Karena masyarakat pada umumnya masih taklid terhadap ulama’ yang dianutnya dan kurang memahami terhadap hukum agama.
Berangkat dari permasalahan tersebut, maka saya sangat tertarik untuk mempelajari lebih mendalam tentang kitab-kitab klasik maupun kitab kontemporer yang nota bene menjadi pegangan para ulama’ dalam memberikan sebuah keputusan maupun solusi yang terjadi di masyarakat.
Dengan studi ini, diharapkan nanti akan mampu mendudukkan persoalan-persoalan yang muncul di dalam masyarakat menjadi lebih proporsional, tentunya dengan dasar dan landasan dari kitab-kitab yang relevan dengan permasalahan tersebut. Sehingga budaya taklid buta sedikit-demi sedikit akan berubah, dengan terbiasanya tahqiq al-kutub.
Semoga…

Pasuruan, 24 Juli 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: