Problematikan Pendidikan Islam

Disusun Oleh : Irsyadus sifa’, Ifawati Nuzula, M. Afandi, Umi Hanik, M. Tho’in Susanto

A. SEBUAH RASIONALITAS

Proses pembelajaran yang berkualitas adalah sebuah proses pembelajaran yang mampu mengor­kes­trasi multiple intelligence yang dimiliki pembelajar. Sebuah institusi pendidikan yang mampu menye­lenggarakan proses pembelajaran berkualitas, maka akan melahirkan output yang berkualitas pula. Jika hanya satu kecerdasan yang ditumbuhkembangkan oleh sebuah institusi pendidikan, maka institusi tersebut hanya memberikan sedikit bekal hidup kepada peserta didiknya. Karena berdasarkan hasil temuan Daniel Goleman, bahwa kontribusi IQ terhadap keberhasilan hidup seseorang paling banyak hanya 20 %, sementara 80 % ditentukan oleh faktor lain yang terhimpun dalam kecerdasan emosional. (Gordon Dryden & Jeannette Vos. Revolusi Cara Belajar I. Bandung: Kaifa, 2000)

Temuan lain berikutnya, yang digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, bahwa ada kecerdasan yang dapat menjadikan hidup manusia lebih bermakna, yaitu kecerdasan Spiritual. Sementara Ary Ginanjar mencoba untuk menggabungkan dua kecerdasan tersebut (emosional dan Spiritual) menjadi sebuah energi yang luar biasa guna membentuk kepribadian yang kamil. (Ary Ginanjar Agustian. ESQ –Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga, 2002)

Dengan demikian, paling tidak ada tiga kecerdasan yang harus diorkestrasi dalam sebuah proses pembelajaran agar menghasilkan output yang berkualitas, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan anak yang menjadi bawaan lahir hanyalah kecerdasan Intelektual, sementara kecer­dasan emosi dan kecerdasan spiritual dapat ditumbuh-kembangkan melalui pendidikan. Jika delapan puluh persen keberhasilan hidup seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosi dan spiritual, dan hanya dua puluh persen ditentukan oleh kecerdasan intelektual, berarti kecerdasan intelektual hanya sebagian kecil dari kunci keberhasilan hidup seseorang.

Dengan demikian maka dunia pendidikan memiliki peluang yang cukup besar untuk mengantarkan keberhasilan hidup seseorang. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana meningkatkan dan mengembangkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, dengan tetap tidak mengabaikan peningkatan dan pengembangan kecerdasan intelektual dalam sebuah proses pembelajaran, terutama melalui  Pendidikan  Islam.

Pada kenyataannya, pembelajaran materi pendidikan agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan, selama ini masih mengarah pada pengelolaan kecerdasan intelektual pembelajar, dan belum menyentuh pada aspek kecerdasan emosional dan spiritual. Proses pembelajaran materi Pendidikan Agama Islam lebih menggunakan pendekatan doktriner melalui ceramah-ceramah, padahal kecerdasan emosional dan spiritual tidak dapat ditumbuhkembangkan hanya dengan ceramah-ceramah di kelas, namun melalui ajakan dan contoh konkrit, juga melalui pembiasaan-pembiasaan.

Bukti lain bahwa materi PAI hanya mengelolah kecerdasan intelektual saja adalah dari hasil evaluasi hasil belajar yang dilakukan oleh para pengajar. Mereka (para pengajar) memberikan nilai angka 7, 8, 9 atau bahkan 10 pada seorang pembelajar berdasarkan mampu tidaknya para siswa menjawab soal-soal ujian yang hanya mampu mengukur kecerdasan intelektual saja. Padahal tujuan utama diberikannya pendidikan agama tidak terbatas pada pengembangan aspek intelektual saja, tetapi menyeluruh meliputi tiga aspek kecerdasan tersebut.

Oleh karena itu, perlu dicari sebuah model Pendidikan  Islam yang mampu mengorkestrasi tiga kecerdasan sekaligus, intelektual, emosional dan spiritual.

B. PROBLEMA KONSEPTUAL TEORITIK PENDIDIKAN ISLAM

Agama Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad Saw. Mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Dalam agama Islam terkandung suatu potensi yang mengacu kepada kedua fenomena perkembangan yaitu

1)    Potensi Psikologis dan pedagogis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi pribadi yang berkualitas baik dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya

2)    Potensi pengembangan kehidupan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsive terhadap lingkungan sekitarnya.

Untuk mengaktualisasikan dan memfungsikan potensi tersebut di atas diperlukan ikhtiar kependidikan yang sistematis berencana berdasarkan pendekatan dan wawasan yang interdisipliner. Karena manusia semakin terlibat ke dalam proses perkembangan social itu sendiri menunjukkan adanya interelasi dan interaksi dari berbagai fungsi. Agama Islam yang membawa nilai-nilai dan norma-norma kewahyuan bagi kepentingan hidup manusia di atas bumi, baru actual dan fungsional bila diinternalisasikan ke dalam pribadi melalui proses kependidikan yang konsisten, terarah pada tujuan. Karena itu proses kependidikan Islam memerlukan konsep-konsep yang pada gilirannya dapat dikembangkan menjadi teori-teori yang teruji dan praktis di lapangan operasional. Bangunan teoritis kependidikan Islam itu akan berdiri tegak di atas fondasi pandangan dasar (filosofi) yang telah digariskan oleh Tuhan dalam kitab suci. Bila pendidikan Islam telah menjadi ilmu yang ilmiah dan amaliah maka ia akan dapat berfungsi sebagai sarana pembudayaan manusia yang bernafaskan Islam yang lebih efektif dan efisien.

Namun akhir-akhir ini, akibat timbulnya perubahan social di berbagai sector kehidupan umat manusia, beserta nilai-nilainya ikut mengalami pergeseran yang belum mapan. Pendidikan Islam seperti yang dikehendaki umat Islam, harus mengubah strategi dan taktik operasional. Strategi dan taktik itu tak pelak lagi menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya sehingga lebih efektif dan efisien, dalam artian pedagogis, sosiologis, dan cultural.

Pendidikan Islam masa kini dihadapkan kepada tantangan yang jauh lebih berat dari tantangan yang dihadapi pada masa permulaan penyebaran Islam. Tantangan tersebut berupa timbulnya aspirasi dan idealitas umat manusia yang serba multiinteres yang berdimensi nilai ganda dengan tuntutan hidup yang multikompleks pula. Tugas pendidikan Islam dalam proses pencapaian tujuannya tidak lagi menghadapi problema kehidupan yang simplisistis, melainkan sangat kompleks. Akibat permintaan yang bertambah (rising demand) manusia semakin kompleks pula, hidup kejiwaannya semakin tidak mudah diberi nafas agama.

Bagaikan obat pahit yang menyembuhkan, namun banyak orang yang tidak mau menelannya. Karena itu diperlikan system dan metode yang menarik. Orientasi pendidikan Islam dalam zaman teknologi masa depan perlu diubah pula. Semula berorientasi pada kehidupan ukhrawi menjadi duniawi-ukhrawi bersamaan. Orientasi ini menghendaki suatu rumusan tujuan pendidikan yang jelas, karena itu program pembelajarannya harus lebih diproyeksikan ke masa depan dari pada masa kini atau masa lampau. Meskipun masa lampau dan masa kini tetap dijadikan khazanah kekayaan empiris yang amat berharga bagi batu loncatan ke depan, sehingga nostalgia kembali pada masa keemasan dunia Islam di lampau (abad ke 7 – 14) tidak perlu lagi mengobsesi pemikiran kita. Lebih-lebih dalam menghadapi pergeseran nilai-nilai cultural yang transisional dari dunia kehidupan, belum menemukan pemukiman yang mapan. Pendidikan Islam dituntut untuk menerapkan pendekatan dan orientasi baru yang relevan dengan tuntutan zaman. Justru pendidikan Islam membawakan prinsip dan nilai-nilai absolutism yang bersifat mengarahkan tren perubahan sosiokultural itu.

Pengaruh sains dan teknologi canggih, sebagaimana yang kita ketahui bahwa dampok positif dari kemajuan teknologi sampai kini adalah bersifat fasilitatif (memudahkan). Memudahkan kehidupan manusia yang sehari-hari sibuk dengan berbagai problema yang semakin rumit. Teknologi menawarkan berbagai macam kesantaian dan kesenangan yang semakin luas, memasuki ruang-ruang dan celah-celah kehidupan kita sampai yang remang-remang dan bahkan yang gelap pun dapat dipenetrasi.

Dampak negative dari tekniologi modern telah mulai menampakkan diri di depan mata kita, Pada prinsipnya berkekuatan melemahkan daya mental-spiritual atau jiwa yang sedang tumbuh berkembang dalam berbagai bentuk penampilan dan gaya-gayanya. Tidak hanya nafsu muthmainnah yang dapat diperlemah oleh rangsangan negative dari teknologi elektronika dan informatika, melainkan juga fungsi-fungsi kejiwaan lainnya. Seperti kecerdasan pikiran, ingatan, kemauan, dan perasaan (emosi) diperlemah. Kemampuan aktualnya dipermudah dengan alat-alat teknologis-elektronis dan informatika seperti computer, foto kopi jarak jauh (facsimile), dan sebagainya. Dalam waktu dekat, anak didik kita tidak perlu lagi belajar bahasa asing atau keterampilan tangan, dan berfikir ilmiah tingkat tinggi, karena alat-alat teknologi telah mampu menggantikannya dengan computer penerjemah semua bahasa asing. Robot-robot telah siap mengerjakan tugas-tugas yang harus dikerjakan dengan tangan dan mesin otak (computer generasi baru)  mampu berfikir lebih cepat dari otak manusia sendiri. Lalu, bagaimana tentang proses menginternalisasikan dan mentransformasikan nilai-nilai iman dan takwa ke dalam lubuk hati manusia. Sampai saat ini kita belum mendengar adanya teknologi tranformasi nilai-nilai spiritual itu. Bukan tidak mungkin selepas abad ke-20 nanti mesin itu akan diciptakan manusia.

Permasalahan baru yang harus dipecahkan oleh pendidikan Islam khususnya adalah dehumanisasi pendidikan, netralisasi nilai-nilai agama, atau upaya pengendalian dan mengarahkan nilai-nilai transisional kepada suatu pemukiman yang Ilahi, kokoh dan tahan banting. Baik dalam dimensi individual maupun sosiokultural.

C. KRISIS PENDIDIKAN ISLAM

Hubungan antara pendidikan dengan masyarakat erat sekali, maka dalam proses pengembangannya saling mempengaruhi. Mesin pendidikan yang kita namakan sekolah dalam proses pengembangannya tidak terlepas dari mesin social. Mesin social menggerakkan segenap komponen kehidupan manusia, terdiri dari sector-sektor social, politik dan agama. Masing-masing sector ini bergerak dan berkembang saling mempengaruhi menuju kearah tujuan social yang telah ditetapkan. Bilamana kesemuanya berada di dalam pola yang harmonis dan serasi, maka masyarakat pun bergerak dan bergerak secara harmonis. Akan tetapi, jika salah satu atau beberapa sektornya mengalami ketidakharmonisan, maka sektor-sektor lainnya akan terpengaruh. Dari sinilah awal dari terjadinya krisis kehidupan masyarakat yang pada gilirannya melanda sekolah, bahkan sekolah ditekan dan dibebani tugas untuk memberikan konsep-konsep penyelesaiannya.

Fenomena sosial yang telah diteliti oleh para ahli perencanaan kebijakan pendidikan misalnya, menunjukkan bukti bahwa setiap tahap kemajuan ilmu dan teknologi canggih, selalu membawa perubahan sosial yang sepadan atau bahkan lebih besar dari pada perkiraan atau peramalan mereka. Dampak positif dan negatifnya terhadap kehidupan manusia kadang-kadang tidak dapat lagi dikontrol atau diarahkan oleh lembaga-lembaga social dan cultural atau moral yang sengaja dibangun oleh masyarakat sepeerti sekolah. Dalam arena kehidupan masyarakat yang dipetakan oleh para ahli sebagai suatu kesuraman dan kekusutan karena berbagai dampak iptek yang mengerosi nilai-nilai seluruh bidang-bidang kehidupan, maka apa dan bagaimana lembaga-lembaga pendidikan Islam pada khususnya dan lembaga pendidikan pada umumnya harus berperan yang paling baik ? Inilah pertanyaan yang layak diajukan kepada umat Islam yang kedudukannya sebagai umat  di tengah-tengah masyarakat.

Pendidikan baru dari berbagai disiplin keilmuan yang dilakukan secara integralistik amat diperlukan, untuk mendorong pendidikan Islam yang mampu menghadapi masyarakat teknologi masa depan yang makin teknologis. Barangsiapa yang menguasai iptek, ia akan dipertahankan dengan system pendidikannya di masa depan. Beberapa ahli perencanaan kependidikan masa depan telah mengidentifikasikan krisis pendidikan yang bersumber dari krisis orientasi masyarakat masa kini, dapat pula dijadikan wawasan perubahan system pendidikan Islam, yang mencakup fenomena-fenomena antara lain sebagai berikut :

1. Krisis nilai-nilai.

Krisis nilai berkaitan dengan masalah sikap menilai sesuatu perbuatan tentang baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah, dan hal-hal lain yang menyangkut perilaku etis individual dan sosial. Sikap penilaian yang dahulu diterapkan sebagai “benar, baik, sopan, atau salah, buruk, tak sopan” mengalami perubahan drastis  menjadi ditoleransi, sekurang-kurangnya tak diacuhkan orang.

2.  Krisis Konsep tentang kesepakatan arti hidup yang baik

Masyarakat mulai mengubah pandangan tentang cara hidup bermasyarakat yang baik dalam bidang ekonomi, politik, kemasyarakatan, dan implikasinya terhadap kehidupan individual. Nilai-nilai apa yang dijadikan ukuran, menjadi kabur. Sekolah yang menjadikan cermin idealitas masyarakat, risau tentang adanya kekaburan konsep tersebut, sehingga sulit untuk dipantulkan ke dalam program-program kependidikan. Kalau mau mengambil konsep  etika Islam, sekolah kita tidak akan mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai sarana pembudidayaan manusia.

3.  Adanya kesenjangan kredibilitas

Dalam masyarakat manusia saat ini dirasakan adanya erosi kepercayaan di kalangan kelompok penguasa dan penanggung jawab social. Di kalangan orang tua, guru, penegak hukuim dan sebagainya mengalami keguncangan jiwa, mulai diremehkan orang yang semestinya manaati atau mengikuti petuahnya

4. Kurang sensitif  terhadap kelangsungan masa depan

Falsafah hidup yang dogmatis dan statis yang tidak mengacu kepada kelangsungan hidup masa depan, tidak lagi dapat diandalkan untuk menjadi landasan sikap sekolah masa kini. Tradisi-tradisi yang membelenggu kebebasan berfikir dan berkreasi anak didik harus dibuang jauh, sehingga sekolah kita akan menjadi institusi kependidikan yang dinamis. Ini mendorong anak didik belajar secara intensif berorientasi kearah masa depan tekno, sosio, dan bio yang realistis, tapi moralistis.(Prof. H. Muzayyin Arifin,M.Ed. Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta .Bumi Aksara, 2008, hal : 38-39)

DAFTAR PUSTAKA

Agustin, Ari Ginanjar. ESQ –Emotional Spiritual Quotient. Jakarta: Arga, 2002

Arifin. Muzayyin,Prof.M.Ed, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta .Bumi Aksara, 2008

Gordon Dryden & Jeannette Vos. Revolusi Cara Belajar I. Bandung: Kaifa, 2000

Comments
One Response to “Problematikan Pendidikan Islam”
  1. upjakarta says:

    menarik juga artikelnya,,!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: