CAPRES DAN CAWAPRES UNJUK GIGI: Satu Babak Sandiwara Politik

By: Amang Fathurrohman

Pesta demokrasi dan pesta bagi-bagi kekuasaan politik Indonesia dalam capres dan cawapres cukup menarik untuk diamati dan dinikmati oleh rakyat Indonesia. Demokrasi yang selama ini menjadi jargon, simbol, wacana, bahkan menjadi sebuah imajinasi utopis yang bersifat kamuflase sekarang sedang diuji dalam manifestasinya.

Para capres dan cawapres beramai-ramai menunjukkan sisi baik pribadinya dengan datang ke pasar untuk belanja lombok beberapa kilogram yang biasanya membeli di mall, plaza atau tempat yang dinilai lebih “bersih dan higienis”.

Ramai-ramai capres dan cawapres mau makan bersama dengan buruh, tani, tukang ojek, bahkan gelandangan yang biasanya makan dengan relasi bisnisnya di restoran mewah tanpa bisa diganggu oleh orang yang tidak mempunyai kepentingan bisnis kelas kakap seperti tukang ojek, buruh tani dan yang sederajad. Bahkan sekarang mereka makin kreatif dengan mendirikan “warung tegal” dengan harga murah tapi pelayanan mewah agar bisa dinikmati oleh kaum dluafa, dengan nama warung yang cukup singkat tapi penuh makna: Warung Wiranto, Warung Amin Rais, Warung Mega…suatu fenomena yang tidak pernah dijumpai selama Indonesia merdeka…luar biasa.

Di sisi lain, pertempuran visi dan misi serta dinamika persaingan untuk menarik simpatik masyarakat agar mendukung mereka pada tanggal 5 Juli nanti patut juga dicermati. Mulai dari debat publik baik dalam media massa maupun dalam seminar. Yang agak menggembirakan adalah sistem transparansi dalam penyampaian visi misi mereka yang lebih terbuka dari sebelumnya yang hanya bicara keterbukaan tanpa ada realisasinya. Berbagai strategi mereka siapkan, mulai membentuk Mega Center atau Posko SBY-MJK yang siap on-line ‘30 jam’ non stop perhari tanpa mengenal lelah untuk melayani informasi dan bantuan kepada masyarakat, membuat jargon-jargon kesayangan dan kemenangan mereka, dan tidak lupa membuat bumbu janji-janji manis yang bersifat idealistik untuk membangun negara Indonesia yang sedang terpuruk ini, juga  tidak ketinggalan isu-isu untuk menjatuhkan lawan politik juga telah dipersiapkan, mulai dari isu keamanan, ekonomi, HAM, bahkan yang bersifat sakral dan suci (baca: agama) juga dipergunakan, termasuk di antaranya adalah masalah Presiden Wanita.

Mungkin mereka menyadari betapa dahsyatnya kekuatan agama dalam pentas politik serta teringat dengan al-Ghazali yang pernah merefleksikan kekuasaan dengan berkata: Agama akan menjadi kuat bila ditopang dengan kekuasaan. Kekuasaan akan kekal bila didasarkan pada agama.

Dalam penafsiran perkataan al-Ghozali apabila dikaitkan dengan kekuasaan (baca: politik), kira-kira mungkin akan mempunyai makna dan arti begini: suatu kekuasaan harus bisa memanfaatkan dalil-dalil agama bagi kelanggengan kepentingan kekuasaan mereka. Dalam aplikasinya, mereka bisa ‘menggunakan’ para Kyai untuk menarik simpatik Kyai dan para jamaahnya dengan menghadiri dan membuat istighosah, mengumpulkan para Kyai untuk membuat suatu Tausiyah yang sesuai dengan kepentingan mereka, atau para tokoh politik ini mengklaim jadi Kyai yang nota benenya adalah sebagai “pewaris para Nabi.”

Yang menjadi pertanyaan bagi orang kecil seperti saya adalah, apakah yang mereka ucapkan dan mereka buat adalah betul-betul untuk rakyat Indonesia, ataukah memang betul-betul untuk rakyat Indonesia tapi sampai hanya satu bulan saja? Sepertinya rakyat Indonesia sudah mempunyai jawabannya, bahwa itu semua adalah PANGGUNG SANDIWARA.

Malam yang sepi…

Krejengan Probolinggo, Sabtu 19 Juni 2004 Pukul 00.15 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: