PEMERKOSAAN ATAS NAMA CINTA (PANCI); PERSOALAN LAMA FENOMENA BARU


Amang Fathurrohman[i] [ii]

Cinta

Cinta adalah tembang indah,

yang tersusun dari senandung kepahitan

Cinta adalah tembang indah,

Yang mengalir dari dawai-dawai kepedihan

Cinta adalah tembang indah,

Yang mencuat dari adab hati penuh kegelisahan

Cinta adalah tembang indah,

Yang lahir dari rahim penderitaan

Cinta adalah tembang indah,

Yang hadir di tengah-tengah kesepian

(Iip Wijayanto)

Dalam kehidupan manusia khususnya remaja, persoalan cinta selalu menghiasi warna-warna kehidupan manusia. Ada yang mengatakan bahwa cinta itu indah, cinta itu buta, cinta itu tak harus memiliki, ataupun bentuk-bentuk cinta yang lain.

Persoalan cinta memang bukanlah persoalan yang baru, persoalan yang muntakhir, persoalan yang modern atau yang terkini. Sebenarnya persoalan cinta (baca: kisah cinta) ini sudah ada sejak zamannya nabi Adam sebagai manusia pertama, Romeo dan Juliet pada abad pertengahan sampai kisah cinta Surti dan Tejo versi Jamrud, penyanyi rock Indonesia. Dengan kata lain cinta itu merupakan masalah yang lama tetapi selalu menjadi fenomena yang baru yang seakan-akan tidak akan pernah usang dan tidak ada ujungnya.

Persoalan ini (cinta, pen) mempunyai daya tarik tersendiri dan selalu enak dikaji. Baik itu masalah cinta dengan kisah yang menyenangkan, membahagiakan, romatis, menyedihkan, mengharukan, sampai kisah cinta yang tak dapat diungkapkan -bahkan untuk dibayangkan saja sulit- dengan meminjam bahasa sahabat-sahabat yang lagi kasmaran bahwa “cinta itu tak dapat diungkapkan dengan sebuah kata-kata.”

Buku-buku yang mengulas masalah cinta juga tak dapat dihitung dengan jari, baik yang mengulas masalah cara untuk mendapatkan cinta (baca: mendapatkan pacar bagi yang jomblo), trik-trik bercinta (sex) misalnya buku Kamasutra, roman cinta seperti kisah Siti Nurbaya, Romeo dan Juliet dan sebagainya, belum lagi cinta yang dikaji dalam perspektif agama, sosial budaya. Salah satunya adalah persoalan cinta yang ditulis oleh Iip Wijayanto dengan judul buku “Pemerkosaan Atas Nama Cinta” yang laris manis seperti jualan kacang goreng, di samping bukunya yang lain “Sex In The Kost”

Buku yang memadukan antara studi kasus, psikologi, serta dibumbui dengan perspektif agama yang diracik dengan gaya penulisan fiksi memang enak untuk dibaca.

Buku ini memulai ulasannya dari sebuah studi kasus tentang cerita perjalanan Sukma, gadis yang cerdas, alim, selalu menjadi juara di kelasnya, dan anak orang yang mampu. Kemudian Sukma masuk ke salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta yang ternama tanpa ada kesulitan dengan mengambil jurusan Teknik Kimia.

Dalam perjalanan kuliahnya Sukma ingin menambah wawasan dan pengalamnnya pada bidang yang lain, yaitu menjadi seorang penyiar. Walau sudah ditentang habis-habisan oleh orang tua namun tekad Sukma tetap membara (h: 3). Alhasil, Sukma akhirnya bisa bekerja pada sebuah radio kecil dengan format acara “asmuni” (asal muni). Dia memulai karirnya dengan menyenangkan, itung-itung untuk refresing sehabis kuliah Kimia yang memusingkan. Kisah ini dilanjutkan dengan perkenalan antara Sukma dengan Dul Kamdi salah satu dan satu-satunya operator di radio tersebut. Awalnya sebagai teman biasa, selanjutnya TTM (Teman Tapi Mesra sampai) sampai akhirnya menjadi pria Siaga (Siap Antar Jaga). Dari perkenalan ini dilanjut pada kisah hubungan mesra yang terjadi  antara Sukma dan Dul Kamdi. (h: 9-15). Akhir cerita dapat disimpulkan seperti dalam kata’-kata “Bukan Kehilangan Keperawanan Yang Aku Tangisi, Tapi Perjumpaanlah Yang Aku Sesali!” atau kalau boleh mengutip bahasa Pat Kai (salah satu tokoh dalam Kera Sakti) “Derita Cinta memang Tiada Akhirnya”

Pada bagian ini Iip mencoba menggambarkan bagaimana pertempuran bathin Sukma yang masih kental dengan budaya ketimuran dan ajaran agama yang masih kental dengan keinginan dan syahwat Dul Kamdi dengan jurus-jurus asmaranya, walau akhirnya iman Sukma luluh juga.

Pada bab selanjutnya (Pemerkosaan Atas Nama Cinta), Iip mencoba mengkaji dari studi kasus tersebut. Dia berpendapat bahwa kasus pemerkosaan yang terjadi di dalam bingkai pacaran yang diikat dengan “atas nama cinta” akan melahirkan komitmen-komitmen dan peraturan-peraturan yang bisa menjadi entry point lahirnya pemerkosaan itu sendiri. (h: 30).

Walaupun peraturan-peraturan ini tidak tertulis, namun lazimnya orang yang mengikatkan diri dalam bingkai pacaran akan melakukannya. Kata “sayang” dan “Cinta” merupakan senjata yang paling ampuh untuk membangun kerengkeng imajiner bagi pasangannya. (h: 31)

Pada akhir bab ini, Iip mencoba menandaskan sebuah arti cinta sebagai berikut:

Mencintai itu tidak sama dengan mengekang, memaksa dengan gaya bahasa apapun dan atas alasan apapun. Jika orang yang anda cintai tadi benar-benar mencintai anda maka dia akan benar-benar menjaga kehormatan anda. Menyentuh anda pun dia tidak mau, sebelum tuntunan agama memperkenankannya. (h: 37-37)

Pada bagian selanjutna (Say No for Sex Before Marriage) Iip mencoba lebih menandaskan bahwa sex sebelum menikah merupakan sesuatu yang konyol karena Sex Before Marriage (sex sebelum menikah) akan mendatangkan penyesalan yang tiada batas atau sesuai dengan judul film “Midun” yang pernah disiarkan TVRI tahun 90-an yang terbalik “Nikmat Membawa Sengsara” (seharusnya “Sengsara Membawa Nikmat”). Pada bagian ini Iip juga mengupas bagaimana budaya-budaya yang terjadi selama ini disekitar kita sehingga mampu membentuk suatu budaya yang seharusnya tidak menjadi sebuah budaya.

Pada bab berikutnya, Iip juga mengulas tentang tipe-tipe cowok dan gaya pacaran yang wajib dihindari. Misalnya tipe pacar dan teman laki-laki yang wajib untuk dihindari: MS (maniak seks), PPB, (pendekar pemetik bunga), Kolektor, (CM (Cowok Matre), CTS (cowok tuna susila), (TP (tukang pukul), Wasit, Perayu, Destroyer (perusak) dan Addicted (kecanduan). Sedangkan gaya pacaran yang perlu dihindari misalnya: Room oriented, love in all the time, show, experiment, dan just having fun.

Pada bagian penutup buku ini (Beberapa Prediksi dan Manajemen Hasrat Sexual) Iip mencoba menganalisa kemungkinan yang terjadi pada beberapa tahun ke depan tentang fenomena sex serta beberapa saran yang perlu dilakukan khususnya bagi kaum muda. Pada bagian ini Iip juga memberikan beberapa tips untuk menjaga hasrat sex agar tetap stabil.

Sebagai akhir catatan ini, cinta memang perlu dan harus untuk selalu dijaga kemurniannya. Untuk menjaga kemurnian cinta itu dibutuhkan suatu manajemen cinta (baik pada sisi komunikasi, etika, agama, sosial, budaya dan dari berbagai sisi yang bermaslahah) agar kisah cinta tidak akan mengucapkan “Derita Cinta Memang Tiada Akhirnya”.  Selamat membaca….

Pagi Yang Cerah

Sengonagung, 29 Agustus 2003


[i] Sebagai bahan perbincangan dalam bedah buku “Pemerkosaan Atas Nama Cinta” oleh Pengurus Komisariat Ngalah pada tanggal 29 Agustus 2003 di Gedung MA Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan

[ii] Anggota Litbang PMII Cabang Pasuruan Periode 2002-2003 dan sedang mencari cinta sejatinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: