VALENTINE DAYS DAN ORGANISASI Antara Kausalitas dan Peran Organisasi[1]

Oleh Amang Fathurrohman [2]

Pengantar

14 Februari, atau yang lebih dikenal dengan Valentine Days/Vide (vide, sebutan penulis agar mudah diucapkan dan tampak lebih keren), satu tanggal yang mempunyai moment tersendiri khususnya bagi para remaja, satu moment yang istimewa (special), bahkan cenderung disakralkan untuk menjadi hari “kisah cinta  umat manusia”.

Tidak tahu siapa yang memulai “mensakralkan” vide, yang jelas seluruh dunia seakan terhipnotis untuk melakukan acara “ritual” kasih sayangnya pada hari tersebut. Banyak para remaja yang membuat “kado”, hadiah yang spesial atau membuat “prasasti” dengan simbol-simbol hati sebagai ungkapan kasih sayangnya kepada doinya. Tidak sedikit juga yang menjadi pujangga dadakan yang menyusun kata-kata dengan sangat puitisnya yang tidak kalah dengan pujangga ternama sekelas Kahlil Gibran, Jalaludin ar-Rumi, maupun pujangga Indonesia sekelas Khairil Anwar. Orang yang membaca karya pujangga dadakan ini pasti akan terbuai oleh kata-katanya.

Lalu bagaimana bila merayakan Vide dalam sebuah organsiasi, apakah ada hubungannya antara Vide dengan organisasi? Bagaimaa kalau dipandang dalam perpektif nilai-nilai yang terkandung dalam Vide untuk dikejawantahkan dalam organsiasi? Sebelum mendiskusikan semua itu, maka alangkah afdhol-nya bila memulai dari sisi historisnya, sehingga pemaknaan tentang Vide diharapkan lebih komprehensif.

Historis Vide

Sebenarnya banyak versi mengenai asalnya hari Valentine itu. Dalam (http://cintakasih.itgo.com/info_cinta_Sejarah_Valentine_Day.htm, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004) mengatakan bahwa agama Katholik pernah mempunyai tiga Santo Valentine yang kesemuanya merupakan martir dalam martirologi di bawah tanggal 14 Feberuari. Yang pertama merupakan seorang Pastur di Roma, yang kedua merupakan Bishop dari Interamna (Terni modern), dan yang terakhir melayani masyarakat di Afrika. Nah, hari Valentine berasal dari Hari Santo Valentine ini, namun tidak begitu banyak informasi maupun nilai-nilai sejarah tentang ketiga Santo Valentine ini.

Namun versi yang terkenal tentang asal muasal valentine days dimulai dari cerita pada awal abad keempat sebelum masehi (ada juga versi yang menyebutkan pada abad pertengahan-penelitian), bangsa Romawi biasa mengadakan pesta bagi salah satu dewa mereka yaitu Lupercalia (Lupercus). (http://users.bigpond.net.au/shalom/ab/artikel/valentine.html, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004). Pesta Lupercalia ini dilaksanakan suatu acara untuk mencari jodoh.

Perayaan ini dilaksanakan pada pertengahan bulan Februari, bersamaan dengan musim kawin burung, sehingga pada perayaan tersebut digambarkan bagaimana burung-burung berpasangan mencari pasangannya yang menambah nilai simbolis dari perayaan tersebut. Pada sumber yang lain (http://cintakasih.itgo.com/info_cinta_Sejarah_Valentine_Day.htm, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004) mengatakan bahwa pada tanggal 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno di masyarakat Romawi kuno. Juno adalah ratu para dewa dan dewi Romawi. Dia juga dikenal sebagai Dewi Para Perempuan dan Perkawinan. Hari berikutnya, 15 Februari, baru diadakan festival Lupercalia

Pada acara tersebut (yang digunakan untuk mencari jodoh), dilakukan dengan cara yang unik, yakni para gadis menuliskan namanya pada secarik kertas, kemudian dimasukkan ke dalam kotak. Para pemuda yang hadir akan mengambil kertas di dalam kotak tersebut secara acak. Gadis yang terpilih akan menjadi pasangan pemuda tersebut sampai pesta Lupercalia yang berikutnya.

Cara jodoh-jodohan dalam pesta Lupercalia yang telah berlangsung selama 800 tahun ini ditentang oleh fihak gereja yang ada di Roma. Alasannya, hal ini merupakan perayaan kafir yang bertentangan dengan ajaran Kristen. Pada tahun 270 SM, seorang uskup dari Interamma bernama Valentine, memulai kembali kebiasaan ini dengan cara berbeda.

Kaisar Roma yang berkuasa pada masa itu adalah Claudius II. Kaisar yang kejam, Ia memberlakukan peraturan yang melarang orang-orang untuk menikah.  Pemberlakuan peraturan ini bermula pada saat Kaisar berambisi untuk membentuk tentara dalam jumlah yang besar. Dia juga berasumsi bahwa bala tentaranya akan menjadi semakin besar dan kuat, jika tentaranya tidak menikah, Dia berharap kaum lelaki untuk secara suka rela bergabung menjadi tentara.

Namun banyak yang tidak mau untuk terjun ke medan perang. Mereka tidak mau meninggalkan sanak familinya. Peristiwa ini membuat kaisar naik pitam. Lalu apa yang terjadi? Dia kemudian menggagas ide “gila”. Dia berpikiran bahwa jika laki-laki tidak kawin, maka mereka dengan tidak segan-segan akan bergabung menjadi tentara. Makanya, dia memutuskan untuk tidak mengijinkan laki-laki kawin (http://www.alislam.or.id/artikel/arsip/00000032.html, di download pada tanggal 2 Pebruari 2004)

Kalangan remaja menganggap bahwa ini adalah hukum biadab. Uskup Valentine juga tidak mendukung ide gila ini. Sebagai seorang pendeta dia bertugas menikahkan lelaki dan perempuan. Bahkan setelah pemberlakuan hukum oleh kaisar, dia tetap melakukan tugasnya ini dengan cara rahasia. Secara diam-diam uskup Valentine mengumpukan muda-mudi yang saling jatuh cinta untuk dinikahkan.

Hal ini diketahui oleh sang Kaisar, dan ia marah besar. Akibatnya, uskup Valentine ditangkap dan dipenjarakan. Ia harus menyembah dewa orang Romawi jika tidak ingin dihukum. Valentine dengan keras menampik tawaran itu. Akhirnya, pada tanggal 14 Februari tahun 270 SM, ia dipukuli, dilempari batu dan akhirnya dipenggal. Hukuman ini terjadi pada tanggal 14 Februari ketika orang-orang Romawi mempersiapkan festival Lupercalia. Jadi, untuk mengenang jasa dan pengorbanan Santo Valentine serta menghormati tradisi rakyat, para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine. Sekarang ini, hari tersebut lebih dikenal sebagai hari Valentine (http://cintakasih.itgo.com/info_cinta_Sejarah_Valentine_Day.htm, di download pada tanggal 6 Pebruari 2004)

Saat ia berada di penjara, Valentine berhasil menyembuhkan mata seorang gadis buta, anak penjaga menara, berkat imannya yang teguh dan kasihnya yang besar. Sebelum ia menghadapi saat terakhirnya, Valentine menulis sebuah kalimat “From Your Valentine” kepada gadis itu. Kalimat inilah yang menjadi ungkapan yang sering dipakai untuk mengungkapkan kasih sayang atau cinta pada seseorang di Hari Valentine.

Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine yang sekarang ini sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan. Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari. Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 M untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang di penjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang.

Hari Valentine memang ditandai dengan kartu, gambar hati, warna merah muda dan Cupid. Cupid adalah malaikat kecil bersayap yang selalu membawa panah asmaranya ke mana-mana. Dia sering dipakai untuk lambang cinta di hari kasih sayang. Hal itu karena menurut Mitologi Romawi, Cupid adalah anak laki-laki Dewa Venus, Dewa Cinta dan Kecantikan. Kalau orang tuanya saja Dewa Cinta, ya tidak heranlah kalau anaknya jadi lambang cinta … (habis mukanya juga imut-imut dan menggemaskan, sih !)

Dan ada kepercayaan bahwa pada malam menjelang Valentine, apabila Anda makan telur rebus dua buah dan mempelkan lima daun salam di bawah bantal, pasti Anda akan bisa bertemu dan bermimpi dari orang yang Anda kasihi. (Ada-ada azah yach…..)

Bervalentine dan Organisasi; Antara Kausalitas dan Peran Organisasi

Apabila melihat dari historis Vide di atas, ada pertanyaan yang mendasar ketika mencoba menautkan dan mengkorelasikannya dengan sebuah organisasi, yakni apakah mungkin Vide bisa dilakukan dalam sebuah organisasi kepemudaan atau organisasi santri dalam pesantren???

Apabila menganalisa historis pada perspektif syar’i-nya, maka organisasi yang erat hubungannya dengan vide di Indonesia adalah KUA sebagai salah satu lembaga formal negara yang mengurusi tentang “perjodohan” sebagaimana yang dilakukan oleh Santo Valentine pada masa Kaiser Claudius II yang “menjodohkan” (menikahkan), walau tidak menutup kemungkinan -misalnya- ORDA SUROPATI mengadakan nikah massal di Pesantren Ngalah ini sebagai apresiasi adanya Vide, untuk meminimalisisr budaya pojok kampung (pacaran di pojok ruangan) yang masih dianggap tabu.

Bila melihat pada sisi haqiqi atau nilai-nilai yang terkandung dalam Vide sebagai simbol “hari kasih sayang”, maka harus dilihat dahulu pemaknaan dari arti kasih sayang tersebut. Hal ini sangat penting, karena kata kasih sayang merupakan kata yang mempunyai efek yang sangat besar terhadap perilaku manusia, apalagi jika ditautkan dengan sebuah organisasi.

Kita tahu bahwa organisasi adalah sistem dari kelompok orang yang bekerja sama dalam melakukan kegiatan  untuk mencapai tujuan tertentu. Kelompok orang disini berarti adalah sekumpulan dari individu yang mempunyai visi dan misi yang sama dan terikat oleh sistem organisasi. Agar sistem dalam organisasi dapat terlaksana dengan baik maka di dalamnya membutuhkan satu komunikasi yang efektif antar individu dalam organisasi untuk kepentingan kelompok orang (baca: organisasi) yang ditandai dengan adanya kerjasama dalam mencapai tujuan organiasi, bukan untuk kepentingan individu. Salah satu untuk menjaga agar komunikasi di dalam organisasi tetap efektif adalah dengan “komunkasi kasih sayang” yang digunakan pengurus kepada anggota, anggota kepada anggota, maupun anggota kepada para pengurusnya untuk kepentingan organisasi.

Apabila dikaitkan dengan Vide, maka momentum “hari kasih sayang” ini bisa digunakan dalam organisasi ketika masih di dalam frame membangun sebuah komunikasi yang efektif antar komponen organisasi untuk kepentingan dan kemaslahatan, serta eksistensi dari organisasi itu sendiri. Bagaimana bentuk dan caranya untuk memanfaatkan momentum Vide agar organisasi bisa eksis itu tergantung dari kreativitas dari para pengurus maupun anggota organisasi itu sendiri.

Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika momentum Vide ini digunakan oleh personal/individu organsiasi dengan membawa nama besar organisasi atau fasilitas organisasi untuk kepentingannya sendiri dengan dalil “mengejewantahkan kasih sayang”. Misalnya para pengurus organisasi yang menggunakan uang kas organsiasi untuk mengungkapkan kasih sayangnya (dengan membeli kado, kartu valentine, sekuntum mawar ataupun surat cinta yang super lux) pada sang pacar. Atau pengurus yang melakukan “pendekatan personal” karena cantik atau tampan dengan dalih pengkaderan.

Bukannya haram pacaran di dalam organisasi, asal mengetahui mana untuk individu dan mana untuk kepentingan organsiasi, serta tahu tempat dan waktu, serta tetap dilandasi dengan tata aturan yang berlaku baik norma masyarakat, lembaga, maupun agama maka hal itu bukan menjadi satu persoalan utama. Bahkan momentum Vide ini bisa digunakan oleh sang doi untuk mensupport pasangan hidupnya (yang menjadi pengurus organisasi) agar lebih eksis lagi dalam organisasi.

Demikian sedikit tulisan tentang Vide dan organisasi yang dapat kami uraikan untuk menjadi hantaran diskusi, semoga bermanfaat.


[1] Disampaikan dalam seminar yang diselengarakan Orda Suropati pada hari Jum’at (13/2/04) di MA Putri Sengonagung

[2] Litbang PMII Pasuruan yang lagi mencari format merayakan Vide yang ilmiah dan alamiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: