MEMAHAMI PENDEKATAN KAJIAN ISLAM

Telaah Buku “Approaches to Islam in Religious Studies” Richard C. Martin (Ed)

Oleh: Amang Fathurrohman


A. Pengantar

Kalimat “Act Locally and think globally” yang dijabarkan oleh M. Amin Abdullah sebagai bertindak di lingkungan masyarakat sendiri menurut aturan dan norma-norma tradisi lokal serta berpikir, berhubungan dan berkomunikasilah dengan kelompok lain menurut cita rasa dan standar aturan etika global mengantarkan kita untuk merefleksikan kembali situasi dan kondisi keagamaan yang masih belum menemukan formula yang jitu tentang hal tersebut.[1]

Kekerasan, violence, prejudice (buruk sangka), su’u al-dzan keagamaan, etnisitas, kelas, ras, kepentingan, baik ditingkat local, regional, nasional, maupun internasional, masih sangat terasa, seolah-olah ingin membalik adagium “act and think locally only” tanpa harus dibarengi “think globally[2], sehingga kedamaian, mutual trust, peaceful coexistence, tolerance, tasamuh antar sesama dan antar kelompok umat manusia masih menjadi perjuangan untuk diwujudkan bagi umat manusia.

Refleksi Hasyim Muzadi pada “Malam Refleksi 80 Tahun NU, Senin, 30 Januari 2006 dengan mengatakan “Keterpurukan kita itu sudah sempurna. Hukum tidak mencapai keadilan, ekonomi tidak membawa kesejahteraan, pendidikan tidak mencapai karakter, eksploitasi dan eksplorasi alam tidak sampai pada kapabilitas dan kompetensi, budaya tidak menghasilkan etika, dan agama tidak lagi melahirkan rahmat, tetapi justru fitnah dengan konfliknya yang menghancurkan”[3]. Seakan ingin menandaskan bahwa saat ini act and think locally only sudah menjadi budaya, sehingga think globally adalah suatu hal yang terasa berat untuk diwujudkan.

Untuk mengatasi problem tersebut, berbagai studi agama atau sekarang ini lebih spesifik dalam kajian Islamic studies adalah bagian usaha-usaha untuk keluar dari persoalan yang komplek agar tercipta manusia yang lebih baik dan santun di masa datang. Salah satunya adalah dengan mengkaji berbagai esai yang dieditori oleh Richard C. Martin dalam buku “Approaches to Islam in Religious Studies”.

B. Profil Richard C. Martin

RICHARD C. MARTIN adalah profesor agama di Emory University, di mana ia menjabat sebagai ketua departemen Agama 1996-1999. His areas of expertise include Islamic studies, comparative studies in religion, and religion and conflict. Bidang-bidang keahlian-Nya meliputi studi Islam, studi perbandingan dalam agama, dan agama dan konflik. At Emory, Martin served as department chair from 1996-1999. Di Emory, Martin menjabat sebagai ketua departemen 1996-1999. He sits on several national academic boards and committees, such as the Executive Committee of the American Research Center in Egypt. Dia duduk di beberapa dewan akademis nasional dan komite, seperti Komite Eksekutif Pusat Penelitian Amerika di Mesir. He has lectured widely in the United State, Europe, South Africa and Southeast Asia on topics related to Islam and the history of religions.

Ia telah memberi kuliah secara luas di Amerika Serikat, Eropa, Afrika Selatan dan Asia Tenggara pada topik terkait Islam dan sejarah agama. Professor Martin has lived and done research in Egypt and elsewhere in the Muslim world, and he is engaged in cooperative projects with Muslim scholars. Profesor Martin telah tinggal dan melakukan penelitian di Mesir dan di tempat lain di dunia Muslim, dan dia terlibat dalam proyek kerjasama dengan ulama Muslim.[4]

Among his books are Approaches to Islam in Religious Studies (Tucson 1985), Islamic Studies: A History of Religions Approach (Prentice-Hall 1996) and Defenders of Reason in Islam: Mu`tazilism from Medieval School to Modern Symbol (Oneworld 1997).Di antara buku yang telah dihasilkan adalah Approaches to Islam in Religious Studies (Tucson 1985), Islamic Studies: A History of Religions Pendekatan (Prentice-Hall 1996) dan Pembela of Reason in Islam: Mu `tazilism dari Medieval School Modern Symbol (Oneworld 1997). He is co-editor with John Witte of Sharing the Book: Religious Perspectives on the Rights and Wrongs of Proselytism . Dia adalah co-editor dengan John Witte dari Berbagi Buku: Perspektif Agama tentang Hak-hak dan Kesalahan dari Proselytism. He co-edited (with Abbas Barzegar) the recently published Islamism: Contested Perspectives on Political Islam (Stanford University Press, 2009). Dia co-edited (dengan Abbas Barzegar) yang baru diterbitkan Islamisme: diperebutkan Perspectives on Politik Islam (Stanford University Press, 2009)[5].

C. Pembahasan

1. Latar Belakang

Studi Islam (Islamic studies) adalah salah satu studi yang mendapat perhatian di kalangan ilmuwan. Jika ditelusuri secara mendalam, nampak bahwa studi Islam mulai banyak dikaji oleh para peminat studi agama dan studi-studi lainnya. Islam tidak lagi dipahami hanya dalam pengertian historis dan doktriner, tetapi telah menjadi fenomena yang kompleks. Islam tidak hanya terdiri dari rangkaian petunjuk formal tentang bagaimana seorang individu harus memaknai kehidupannya. Islam telah menjadi sebuah sistem budaya, peradaban, komunitas politik, ekonomi dan bagian sah dari perkembangan dunia. Mengkaji dan mendekati Islam, tidak lagi mungkin hanya dari satu aspek, karenanya dibutuhkan metode dan pendekatan interdisipliner.[6] Dengan demikian, studi Islam layak untuk dijadikan sebagai salah satu cabang ilmu favorit. Artinya studi Islam telah mendapat tempat dalam percaturan dunia ilmu pengetahuan.[7]

Kajian agama, termasuk Islam, seperti disebutkan di atas dilakukan oleh sarjana Barat dengan menggunakan ilmu-ilmu sosial dan humanities, sehingga muncul sejarah agama, psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dan lain-lain. Dalam perjalanan dan pengembangannya, sarjana Barat bukan hanya menjadikan masyarakat Barat sebagai lapangan penelitiannya, namun juga masyarakat di negara-negara berkembang, yang kemudian memunculkan orientalisme. Sarjana Barat sebenarnya telah lebih dahulu dan lebih lama melakukan kajian terhadap fenomena Islam dari pelbagai aspek: sosiologis, cultural, perilaku politik, doktrin, ekonomi, perkembangan tingkat pendidikan, jaminan keamanan, perawatan kesehatan, perkembangan minat dan kajian intelektual, dan seterusnya.[8]

Disisi lain, munculnya pendekatan dalam kajian Islam secara langsung menggaris bawahi adanya penilaian di kalangan sarjana bahwa hubungan antara studi Islam dengan studi agama tidak produktif. Artinya, bahwa studi agama masih belum mampu menjawab persoalan-persoalan yang berkembang, khususnya dalam agama Islam.

Argumen ini didasarkan atas kajian Islam hanya memperoleh tempat yang sangat terbatas dan hanya dikaji dalam konteks history of religions, comparative study of religios pada umumnya. Model penghampiran terhadap Islam lebih banyak menggunakan metode kesejarahan (historical) dan filologis yang menekankan analisis tekstual (textual analysis). Namun, dalam perkembangannya kemudian muncul berbagai pendekatan baru yang memberikan peluang bagi tumbuhnya pemahaman (undestanding) lebih komprehensif terhadap Islam.

Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh sarjana Barat dalam pendekatan kajian Islam adalah Richard C. Martin, seorang ahli studi keislaman dalam bukunya Approaches To Islam In Religious Studies. Dalam buku ini, Martin mengemukakan ingin membuka kemungkinan kontak dan pertemuan langsung antara tradisi berfikir keilmuan dalam Islamic Studies secara tradisional dan tradisi berpikir keilmuan dalam Religious Studies kontemporer yang telah memanfaatkan kerangka teori, metodologi dan pendekatan yang digunakan oleh ilmu-ilmu sosial dan humanities yang berkembang sekitar abad ke- 18 dan 19.[9]

Buku suntingan Richard C. Martin ini,  yang sarat dengan muatan metodologi ini adalah upayanya untuk membawa dan mengangkat islamic studies keluar dari jeratan dan jebakan historis-kulturalnya sendiri ke wilayah arus besar pusaran ilmu agama (relegionwissenschaft) yang berkembang sejak abad ke 19 dengan berbagai perangkat metodologi yang dimilikinya. Upaya demikian diharapkan dapat menjembatani kesenjangan metodologis antara Islamaic Studies dan relegionwissenschaft yang masih terasa hingga saat sekarang ini dapat sedikit teratasi.[10]

Buku dari hasil simposium internasional tentang “Islam dan sejarah Agama-agama” yang diselenggarakan oleh Departement of Religious Studies pada Arizona State University, Tempe, pada Januari 1980 yang dinilai Charles J. Adam melebihi capaian simposium karena baru pertama kali di Amerika Utara sejumlah besar sarjana terlatih atau memiliki bacaan luas dalam sejarah agama-agama dan sangat perhatian atas bidang studi ini berkumpul untuk berbagai pandangan tentang tradisi Islam  untuk membahas berbagai persoalan metode dan pendekatan terhadap bidang studi Islam serta aspek-aspek khusus tradisi Islam dan penggunaan berbagai pandangan teoritik dan metodologis ilmu agama untuk mempelajari wilayah studi Islam. [11]

2. Pendekatan Kajian Islam

Dalam buku ini disajikan berbagai pendekatan yang digunakan para Islamis dan sarjana Barat dalam mendekati materi-materi Islam; mulai dari pendekatan terhadap teks kitab suci dan nabi, ritual Islam, Islam dan masyarakat hingga pendekatan interpretasi dan problem insider dan outsider.

  1. Pendekatan terhadap teks kitab suci dan nabi

Pendekatan terhadap teks kitab suci dan nabi dalam buku ini ditulis oleh William A. Graham, Qur’an as Spoken Word: An Islamic Contribution to The Understanding of Scripture (Al-Qur’an sebagai kata terucap: kontribusi Islam untuk memahami kitab suci), dan Erle H. Wought, The Popular Muhammad: Models in the interpretation (Muhammad populer: model-model dalam interpretasi paradigma Islam).

William Graham berpendapat bahwa al-Qur’an tidak semata mempertahankan tradisi tulisnya dalam bentuk kitab, tetapi lebih penting dari itu ia merupakan tradisi oral yang selalu terjaga melalui tilawah, qira’ah, nadwah dan bahkan tahfiidz dalam bacaan harian Muslim. Dan tradisi pembacaan semacam ini dapat dijumpai di belahan dunia Muslim manapun.

Sementara Earle H. Waught memandang kajian tentang Nabi menduduki tempat yang penting karena Nabi adalah figur paradigmatik yang dengannya kita dapat memahami Islam dalam lintasan sejarah. Ia menerapkan teori model pada biografi Muhammad dan pada cara-cara biografi Nabi ditulis dan dipahami dalam berbagai moment sejarah yang berbeda-beda. Waught memandang model sebagai alat analisis dan ia menunjukkan cara Ibn Ishaq menyelesaikan konflik dalam kehidupan dan masa Muhammad dengan tekanan pada para komentator Muslim

  1. Ritual Islam

Dalam pendekatan ini ditulis oleh Frederick M. Denny, Islamic Ritual: Perspenctive and Theories (Ritual Islam: perspektif dan teori) dan William R. Roff, Pilgrimage and The History of Religion: Theoritical approaches to the Hajj (Ziarah dan Sejarah Agama : Pendekatan teoritis terhadap haji).

Frederick M. Denny berpendapat bahwa ritual dalam Islam kurang berhubungan dengan mitos, tidak sebagaimana dalam peradaban kuno dan agama-agama budaya seperti Israel Kuno dan sejarah Yahudi dan Kristen. Menurutnya, kepribadian Muhammad sebagai pembawa Islam tidak dibingkai oleh keajaiban-keajaiban, tetapi lebih oleh sejarah politik Hijaz pada abad 7. Interpretasi atas perilaku ritual tampaknya tidak dapat dilepaskan dari teori semiotik – suatu hermeneutika yang memandang ekspresi keagamaan dalam kata dan perbuatan sebagai bermakna dalam sistem tanda dan simbol budaya. Studi ritual yang baru ini kemudian diterapkan pada Islam dan ini memperkaya pemahaman tentang tema-tema dalam Islamic Studies.

William R. Roff melakukan analisis haji. Roff mengelaborasi teori van Gennep dan menerapkan tesis Turner tentang liminalitas dan batasan-batasannya. Menurut Roff, bahwa haji mabrur mengandung suatu perubahan. Dalam teori Va Gennep melihat rites de passage, yakni perubahan yang efektif seorang individu “dari posisi tertentu sebelumnya ke posisi yang lainnya”, seperti dalam kelahiran, pubertas sosial, perkawinan, status kebapakan, perpindahan ke kelas yang lebih tinggi, pencapaian spesialisasi, dan kematian. Turner dengan memanfaatkan konsep status dan peran yang lebih luas dan proses ritual keagamaan, melihat perubahan itu terjadi dari satu “keadaan” (state) ke yang lainnya. “Keadaan” disini mengacu pada konsep yang lebih inklusif tinimbang statsu atau posisi dan beberapa tipe kondisi yang stabil dan berulang-ulang yang secara kultural diakui.[12]

  1. Islam dan masyarakat

Dalam bagian ini, esei ditulis oleh Marilyn R. Waldman, Primitive Mind/Modern Mind: New Approaches to an Old Problem Applied to Islam (Pikiran primitif/modern: pendekatan baru terhadap Islam) dan Richard M. Eaton, Approaches ti nthe study of conversion ti Islam in India (Pendekatan terhadap studi konversi Islam di India).

Marilyn R. Waldman menunjukkan bahwa semakin berkembangnya tradisi baca tulis dan institusi-insitusi belajar yang sangat menekankan budaya cetak, menyebabkan para sarjana abai terhadap komponen oral dalam budaya Muslim, yang sangat jelas terlihat pada al-Qur’an sendiri. Menurut Waldman perubahan dari model transmisi oral ke transmisi ‘terdaftar/tertulis’ membantu untuk melihat beberapa perkembangan dalam pembentukan tradisi Islam sekaligus diferensiasinya dalam masyarakat Islam saat ini.

Sedangkan Richard M. Eaton mengkaji konversi Islam di India. Dalam proses ini, makam suci para sufi memainkan peran sosial dan simbolik yang penting dalam proses konversi terutama di wilayah-wilayah pinggiran India. Ia memaparkan dimensi konversi yang melibatkan perubahan atau integrasi kosmologi dari sistem budaya yang berbeda untuk mengakomodasi kondisi sosial, ekonomi, politik dan geografi penduduk yang berubah.

  1. Pendekatan interpretasi

Pendekatan ini ditulis oleh Charles J. Adam, the hermeneutics of Henry Corbin, Andrew Rippin, Literary Analisis of Qur’an, Tafsir and Sira’: The Methodologies of John Wansbrought (Analsis Sastra terhadap al-Qur’an, Tafsir dan Sirah) dan Azim Nanji, Toward of Hermenutic of Qur’anic and Other Naratives of Isma’ili Thought (Menuju hermenutika dan narasi lain dalam pemikiran ‘Ismailiyah).

Charels J. Adam menguji karya Henry Corbin tentang Islam di Iran (Islam Syi’ah) dengan menggunakan pendekatan interpretatif dari Clifford Geertz ‘thick description’.

Sedangkan Andrew Rippin mengulas analisis literer yang pernah diterapkan dalam Bible menurut John Wansbrought. Pendekatan ini, oleh John Wansbrought diterapkan dalam penelitian terhadap al-Qur’an dan sunnah. Rippin memunculkan dua persoalan untuk thick description dalam studi agama, yaitu bagaimana kita memandang dan mendekati sejumlah data yang akan diinterpretasi.

Azim Nanji memberi perhatian pada problem analisis simbol-simbol budaya dan maknanya yang ada dalam data agama, dalam hal ini adalah materi sastra suci Syi’ah ‘Ismailiyah. Nanji berpendapat bahwa kita harus tetap mepertanyakan apa arti materi-materi simbolik ini. Seperti muslim lainnya, Isma’iliyah membangun alam makna yang keluar dari al-Qur’an dan sistem simbol lainnya. Nanji mendekati materi-materi suci dalam ‘ismailiyah dengan teori sastra dan analisis tema untuk menentukan pesan Islam fundamental dalam karya-karya tafsir ini.

  1. Pendekatan Problem insider dan outsider.

Dalam insider dan outsider, martin menyunting esai Muhammad Abdul Rauf, Outsider’s interpretations of Islam: A Muslim’s Point Of View dan Fazlur Rahman, Approaches to Islam in Religious Studies: Review Essay.

Kajian insider dan outsider berkaitan erat dengan pengalaman Barat dan Sarjana Muslim sendiri dalam menafsirkan dan memahami Islam. Insider adalah para pengkaji Islam dari kalangan muslim sendiri. Sementara outsider adalah sebutan untuk para pengkaji non-Muslim yang mempelajari Islam dan menafsirkannya dalam bentuk analisis-analisis dengan metodologi tertentu.

Yang dipersoalkan adalah apakah para pengkaji Islam dari outsider benar-benar obyektif, dapat dipertanggungjawabkan, dan memiliki validitas ilmiah dilihat dari optik insider? Abdul-Rauf menolak validitas para pengkaji outsider karena mereka mengkaji Islam atas dorongan kepentingan kolonial guna melanggengkan dominasi politik dan ekonomi atas daerah taklukkannya. Karena itu, studi Islam dalam kerangka argumen itu berarti “kajian ketimuran” (oriental studies)—yang sebenarnya dilakukan oleh intelektual Eropa untuk mahasiswa di universitas Eropa[13].

Dengan demikian, studi Islam dalam optik outsider penuh bias, kepentingan, dan barat sentris. Membaca karya para outsider tentang Islam harus dilakukan dengan kritis dan penuh hati-hati. Apalagi bila yang dikaji adalah teks-teks suci yang untuk dapat memahaminnya diperlukan keyakinan—dan ini tidak dimiliki para pengkaji outsider.[14]

Rauf banyak menemukan prasangka dan bahaya dalam studi Islam Barat. Misalnya adalah analisis studi Islam yang didasarkan pada prasangka budaya, agama, dan prasangka intelektual yang didasarkan pada supremasi budaya (cultural supremacy).[15]

Fazlurrahman berpendapat bahwa dalam kajian Islam terdapat dua kutub yang berbeda, pertama, insider (orang dalam), kedua outsider (orang luar). Kedua kelompok  ini tentunya sangat berlainan dalam mengkaji Islam. Karena itu, orientalis dianggap sebagai outsider dan Ilmuwan Islam sebagai insider. Rahman berpendapat bahwa laporan outsider tentang pernyataan insider mengenai pengalaman agamanya sendiri bisa sebenar laporan insider sendiri.

Namun harus dicatat pula bahwa kajian Islam dari para outsider menyumbangkan gagasan-gagasan besar ilmiah yang memicu gerakan intelektual dalam peradaban Islam. Lahirnya daya kritis Islam lahir berkat kajian-kajian para outsider. Dengan cara berfikir kritis, intelektual Muslim mengetahui problem yang sedang diderita sembari mengusulkan pelbagai pemecahan yang harus dilakukan.[16]

D. Penutup

Upaya Richard C. Martin dalam buku ini patut diapresiasi dengan serius untuk menambah wawasan sekaligus pilihan-pilihan yang produktif dalam mengkaji dan memahami serta memecahkan persoalan-persoalan dalam Islam. Walaupun diakui oleh Martin sendiri masih banyak kekurangan-kekurangannya.[17] Dengan semakin beragamnya pendekatan kajian-kajian Islam yang sekarang berkembang, maka kita memiliki banyak pilihan kaca mata untuk melihat dalam berbagai segi dan perspektif dengan tetap mengedepankan sikap empat dan simpati. Sebagaimana penulis essai dalam buku tersebut memiliki pendekatan kajian Islam yang berbeda-beda, namun mereka memiliki pemahaman yang sama bahwa prasangka terhadap Islam adalah kontraproduktif, sebaliknya empati dan simpati adalah produktif dalam kajian ilmiah ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://cslr.law.emory.edu/people/person/name/martin/

http://www.religion.emory.edu/faculty/martin.html

Kamaruzzaman BA dan Abdullah Masrur dalam Amin Abdullah, dkk. Mencari Islam: Studi Islam dengan berbagai pendekatan, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya

Luluk Fikri Zuhriyah, metode Dan Pendekatan Dalam Studi Islam (Pembacaan atas Pemikiran Charles J. Adams) http://elfikry.blogspot.com/2008_12_01_ archive.html, diakses tanggal 14 November 2009

Amin Abdullah,  Continuity And Change Dalam Ilmu-Ilmu Agama:
Meneropong Kegelisahan Akademik ilmuan Islamic Studies Kontemporer,
dalam http://www.ditpertais.net/swara/warta10-04.asp, diakses tanggal 14 November 2009

M. Amin Abdullah, Mempertautkan ‘Ulum Al-Din Al-Fikr Al-Islami Dan Dirasat Islamiyah; Sumbangan Keilmuan Islam Untuk Peradaban Global, disampaikan dalam Workshop Pembelajaran Inovatif Berbasis Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta, 19 Desember 2008

Mudhofir Abdullah, Sekilas tentang “Insider” dan “Outsider” dalam Studi Islam, dalam http://mudhofirabdullah.com/ update September 30, 2009

Richard C. Martin (Ed), “Approaches to Islam in Religious Studies” Tempe: The University of Arizona Press, 1985.

Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, Surakarta: Muhammadiyah University, 2002


[1] M. Amin Abdullah, Mempertautkan ‘Ulum al-din al-fikr al-islami dan dirasat islamiyah; sumbangan keilmuan Islam untuk peradaban global, disampaikan dalam Workshop Pembelajaran Inovatif Berbasis Integrasi-Interkoneksi, Yogyakarta, 19 Desember 2008, hal. 1

[2] M. Amin Abdullah, Mempertautkan ‘Ulum al-din al-fikr al-islami dan dirasat islamiyah; sumbangan keilmuan Islam untuk peradaban global, hal 2

[3] Hasyim Muzadi, dalam http://mudhofirabdullah.com/

[4] http://cslr.law.emory.edu/people/person/name/martin/

[5] http://www.religion.emory.edu/faculty/martin.html

[6] Luluk Fikri Zuhriyah, http://elfikry.blogspot.com/2008_12_01_archive.html, diakses tanggal 14 November 2009

[7] Kamaruzzaman BA dan Abdullah Masrur dalam Amin Abdullah, dkk. Mencari Islam: Studi Islam dengan berbagai pendekatan, Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, hal. xi

[8] Luluk Fikri Zuhriyah, http://elfikry.blogspot.com/2008_12_01_archive.html, diakses tanggal 14 November 2009

[9] Amin Abdullah,  Continuity And Change Dalam Ilmu-Ilmu Agama:
Meneropong Kegelisahan Akademik ilmuan Islamic Studies Kontemporer,
dalam http://www.ditpertais.net/swara/warta10-04.asp, diakses tanggal 14 November 2009

[10] M. Amin Abdullah, “Kata Pengantar” dalam Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, iv

[11] Charles J. Adam, Prakata dalam Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, Surakarta: Muhammadiyah University, 2002, hal xxviii

[12] William R. Roff, Pendekatan Teoritis Terhadap Haji dalam Richard C. Martin, Pendekatan Kajian Islam dalam Studi Agama, , hal 121

[13] Muhammad Abdul Rauf, Outsider’s interpretations of Islam: A Muslim’s Point Of View dalam Richard C. Martin, “Approaches to Islam in Religious Studies“, USA: The University of Arizona Press. hal. 182

[14] Mudhofir Abdullah, Sekilas tentang “Insider” dan “Outsider” dalam Studi Islam, dalam http://mudhofirabdullah.com/ update September 30, 2009

[15] Muhammad Abdul Rauf, Outsider’s interpretations of Islam: A Muslim’s Point Of View dalam Richard C. Martin, “Approaches to Islam in Religious Studies“hal. 193

[16] Mudhofir Abdullah, Sekilas tentang “Insider” dan “Outsider” dalam Studi Islam, dalam http://mudhofirabdullah.com/ update September 30, 2009

[17] Richard C. Martin, “Approaches to Islam in Religious Studies“hal. 17

Dipresentasikan dalam diskusi kelas program Doktoral IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: