About ISBN: International Standard Book Number

ISBN adalah singkatan International Standard Book Number. Sesuai namanya, ISBN berlaku internasional, dengan kata lain, (seharusnya) tidak akan ada nomor yang sama di seluruh dunia. Berbeda dengan judul, sangat mungkin ada (bahkan banyak) judul yang sama (apalagi judul buku pelajaran). Mungkin, peran strategis ISBN bisa disamakan dengan sidik jari dan DNA pada manusia.

Pada era digital, peran ISBN menjadi semakin penting. Bayangkan, saat anda memesan buku secara online, akan banyak kemungkinan salah order disebabkan kesamaan judul buku. Semua kesalahan tentu akan terbeban pada anda karena andalah yang memasukkan aplikasi. Jika buku tersebut ber-ISBN dan anda mengetahui ISBN-nya, tentu menjadi gampang. Misalnya, kita ingin mencari buku Menguasai Adobe InDesign CS2 yang diterbitkan Penerbit Andi, kita tinggal memesan buku Menguasai Adobe InDesign CS2 dengan ISBN 979-763-392-6.

Keuntungan lain adanya ISBN adalah sebagai sarana promosi buku. Informasi ISBN ini disebarluaskan oleh Badan Nasional yang berada di Jakarta dan Badan Internasional yang berlokasi di Berlin. Badan Nasional ISBN menyebarkan informasi ISBN melalui berbagai terbitan, Bibliografi Nasional Indonesia (BNI), direktori, dan Majalah Berita ISBN.

ISBN terdiri atas 10 digit, 1-3 digit pertama group identity, 2-7 digit kedua publsiher identity, 1-6 digit adalah title identity (nomor urut buku), dan satu digit terakhir adalah check digit (nomor pemeriksa). Check digit selalu satu angka, jika angkanya lebih dari satu, ditulis dengan huruf romawi, misalnya X untuk 10. Penulisan nomor ISBN juga khas, kekhasannya dapat dilihat pada contoh berikut.

ISBN 979-763-392-6

Group identity
Tiga digit pertama merupakan asal geografis atau tempat sebuah buku diterbitkan. Buku yang diterbitkan di Indonesia pasti ISBN-nya didahului dengan angka 979. Sementara, buku yang diterbitkan di Inggris, AS, Kanada, dan Afsel identitas kelompoknya adalah 0.

Publisher identity
Semakin banyak digit pada bagian ini, menunjukkan semakin sedikit buku yang diterbitkan dalam setahun. Sebaliknya, semakin sedikit angka yang tertera pada bagian ini, menunjukkan semakin banyak buku yang diterbitkan dalam setahun.

Title identity
Kebalikan dari publisher identity, semakin banyak angka pada bagian ini menunjukkan semakin banyak buku yang diterbitkan. Jika angkanya terdiri atas 2 digit (berarti publsiher identity-nya 4 digit), berarti dalam setahun penerbit yang bersangkutan hanya menerbitkan 01 s.d. 99 buku, jika empat digit berarti dalam setahun penerbit yang bersangkutan menerbitkan 001 s.d. 999 buku. Bagaimana jika lebih? Jika ini terjadi, identitas penerbitnya akan diganti dengan ciri lain, untuk menambah digit pada nomor urut buku.

Check identity (check digit)
Seperti telah disebutkan, digit terakhir hanya boleh satu. Untuk mendapatkan digit terakhir, kita bisa menghitung sendiri. Namun, saya belum mendapatkan rumus yang pasti mengenai angka terakhir inikarena rumus yang didapatkan dari penerbit ITB (dalam buku Pengantar Penerbitan) dengan rumus yang dikemukakan G. Aris Buntarman (dalam Kompas edisi 21 Januari 2006) berbeda.

Mendapatkan ISBN
Untuk mendapatkan nomor ISBN, kita tinggal menghubungi Perpustakaan Nasional di Jakarta (Pusat ISBN di Jerman mempercayakan pembuatan ISBN di Indonesia pada Perpusnas). Ada beberapa cara untuk menghubungi Perpusnas, namun lembaga ini hanya menerima interaksi melalui telepon dan fax. Ketika saya menghubungi melalui e-mail, petugas meminta dihubungi melalui telpon (021-68293700). Selain tidak bisa dihubungi melalui email, ada beberapa masalah dalam pengurusan ISBN.

  1. Lamanya waktu pengurusan, bahkan ada yang harus menunggu berminggu-minggu. Namun, hal tersebut tidak berlaku sama. Bagi penerbit yang punya hubungan khusus (mengenal salah satu petugas), pengurusannya akan lebih cepat.
  2. Biaya yang dipungut adalah Rp 25.000 per nomor (dan dikirim ke nomor rekening pribadi). Biaya ini sebenarnya terlalu mahal. Coba bayangkan berapa yang didapatkan Perpusnas dari pengurusan ribuan nomor ISBN? Padahal, lembaga tersebut berserta karyawannya telah dibiayai oleh negara.
  3. Sebenarnya penerbit dapat membuat sendiri ISBN setelah mendapatkan Nomor ISBN Prefix Penerbit dari Perpusnas (group identity & publisher identity). Namun, setelah Nomor ISBN Prefix Penerbit tersebut habis digunakan (01-99 untuk yang title identity-nya 2 angka, 001-999 untuk penerbit yang title identity-nya 3 angka), penerbit harus meminta Nomor ISBN Prefix Penerbit yang baru. Saat itulah Perpusnas menagih biaya nomor ISBN yang kita buat sendiri, jika tidak dibayar, nomor yang kita buat sendiri tersebut akan “disandera”.

Ketiga hal tersebut adalah poin-poin yang sering dipertanyakan dan dipermasalahkan oleh pengurus IKAPI. Rupanya Perpusnas tidak menyadari bahwa keberadaan ISBN bukan hanya untuk kepentingan penerbit melainkan juga untuk kepentingan Perpusnas sendiri. Sebab, dengan adanya ISBN Perpusnas akan mudah melacak terbitan-terbitan di Indonesia.

Sebelum mengajukan permintaan ISBN, anda harus mengisi pernyataan bersedia ikut dalam sistem ISBN dan KDT (Katalog Dalam Terbitan)–lihat lampiran. Setelah diisi, surat pernyatan tersebut di-fax ke 021-3927919. Selanjutnya, anda tinggal mengajukan permintaan ISBN melalui fax dengan melampirkan cover buku, halaman copyright, dan kata pengantar.

Sementara, surat pengantar permintaan ISBN memuat judul buku, pengarang/penulis, tahun terbit, jumlah halaman, dan jenjang (khusus buku pelajaran).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: